LANGIT7.ID - , Jakarta - Peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai pada Jumat, 24 September, meminta dunia memastikan perlindungan atas hak-hak perempuan Afghanistan setelah negara itu dikuasai kelompok Taliban.
"Kita tidak bisa berkompromi tentang perlindungan hak-hak perempuan dan perlindungan martabat manusia," kata Malala pada panel tentang pendidikan anak perempuan Afghanistan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, AS.
Ketika berbagai negara dan organisasi mulai mengambil sikap terhadap Taliban, perempuan berusia 24 tahun itu menyampaikan kekhawatiran kelompok itu akan memberlakukan aturan keras terhadap perempuan di Afghanistan seperti yang mereka lakukan saat pertama kali berkuasa 20 tahun lalu.
Padahal sejak saat itu, kesempatan kerja dan pendidikan bagi perempuan Afghanistan telah sangat berkembang.
Baca Juga : Dilarang Berkantor Lagi, Para Wanita Bekerja di Afghanistan Geram"Sekarang adalah saatnya kita berkomitmen dan memastikan bahwa hak-hak perempuan Afganistan terlindungi. Salah satu hak terpenting adalah hak mendapatkan pendidikan," kata Malala yang bergabung dalam diskusi melalui sambungan video.
Malala selamat dari terjangan peluru yang ditembakkan Taliban ke kepalanya pada 2012 saat dia berusia 15 tahun.
Sejumlah anggota Taliban mengincar aktivis pendidikan asal Pakistan itu karena keberaniannya berbicara lantang tentang pendidikan bagi anak perempuan. Serangan terhadap Malala menyulut kemarahan di Pakistan dan dunia internasional.
Beberapa pemimpin dunia berjanji untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak perempuan Afghanistan pada pertemuan tahunan PBB minggu ini, tetapi tidak jelas bagaimana mereka akan melakukannya.
Beberapa waktu lalu, Taliban mengatakan pihaknya telah mengubah kebijakan yang diterapkannya pada 1996 hingga 2001. Termasuk melarang kaum perempuan untuk bepergian tanpa kerabat laki-laki.
Sikap Taliban menimbulkan keraguan tentang seberapa besar mereka akan menghormati hak-hak perempuan ketika kelompok itu mengatakan pekan lalu bahwa mereka akan membuka sekolah menengah untuk anak laki-laki, tetapi tidak untuk anak perempuan.
Baca Juga : Dibayangi Ketakutan, Sejumlah Wanita Afghanistan Tetap BekerjaDi antara mereka yang berbicara di PBB tentang penderitaan perempuan dan anak perempuan Afghanistan adalah Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.
"Tidak ada masyarakat, yang mengizinkan hanya setengah populasinya untuk bergerak maju dan dengan sengaja membuat setengah lainnya terbelakang, akan langgeng," kata Sanchez.
Sumber: Reuters
(est)