Kebaikan Itu Abadi MeskipunTersakiti
Tim langit 7
Rabu, 15 Januari 2025 - 08:05 WIB
Prof Ahmad Zainul Hamdi, Sekretaris Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama RI.
APA yang akan kita lakukan saat ada orang yang menyakiti? Banyak kemungkinannya. Andai punya kekuatan, kemungkinan kita akan membalasnya.Jika tidak, besar kemungkinan kita hanya diam meski sambil menggerutu, atau mendoakan semoga Tuhan membalas kelakuan jahatnya.Standar! Bila begitu yang akan terjadi, besar kemungkinan saat ada yang menasihati agar kita tetap berbuat baik kepada mereka yang telah berlaku jahat pada diri kita, kita akan menganggap orang itu sok. Tapi, mari kita belajar pada “hadits al-ifki”.Peristiwa ini merujuk tuduhan perselingkuhan Sayyidah Aisyah yang dilakukan beberapa orang Sahabat Nabi akibat “dikompori” Abdullah bin Ubay bin Sallul, tokoh munafik Madinah.Secara ringkas, peristiwa ini terjadi pada Sya'ban tahun 5 H, setelah umat Islam menang perang melawan Bani Musthaliq.Dalam peperangan itu, Sayyidah Aisyah ikut menemani Rasulullah. Sesuai dengan keadaan masa itu, Aisyah tinggal di haudaj (rumah kecil yang terpasang di pungguk unta).
Setelah peperangan usai, Rasulullah dan pasukannya kembali ke Madinah. Dalam perjalanan itu, rombongan yang membawa istri Rasulullah singgah di suatu tempat dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Rupanya saat itu Sayyidah Aisyah meninggalkan haudaj-nya untuk buang hajat, tanpa memberi tahu rombongan. Setelah usai, saat hendak kembali ke tempat peristirahatan rombongannya dia menyadari kalungnya hilang.
Walhasil, dia harus mencari kalungnya dulu dalam waktu yang lama. Setelah menemukan kalungnya, dia pun bergegas menuju rombongannya. Nasib, ternyata rombongannya telah berangkat menuju Madinah.
Sayyidah Aisyah memutuskan untuk tetap di tempat sambil berharap ada yang menjemputnya. Dia pun tertidur karena tak kuasa menahan kantuk.
Sayyidah Aisyah pun ditemukan oleh Safwan bin al-Mu’aththal yang bertugas sebagai pengiring pasukan belakang. Tanpa ada pembicaraan apa pun, Safwan kemudian mempersilakannya untuk naik ke untanya.
Dengan menuntun unta yang ditunggangi Aisyah, Safwan dapat menyusul rombongan yang tanpa mereka sadari telah meninggalkan Sayyidah Aisyah.
Setelah peperangan usai, Rasulullah dan pasukannya kembali ke Madinah. Dalam perjalanan itu, rombongan yang membawa istri Rasulullah singgah di suatu tempat dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Rupanya saat itu Sayyidah Aisyah meninggalkan haudaj-nya untuk buang hajat, tanpa memberi tahu rombongan. Setelah usai, saat hendak kembali ke tempat peristirahatan rombongannya dia menyadari kalungnya hilang.
Walhasil, dia harus mencari kalungnya dulu dalam waktu yang lama. Setelah menemukan kalungnya, dia pun bergegas menuju rombongannya. Nasib, ternyata rombongannya telah berangkat menuju Madinah.
Sayyidah Aisyah memutuskan untuk tetap di tempat sambil berharap ada yang menjemputnya. Dia pun tertidur karena tak kuasa menahan kantuk.
Sayyidah Aisyah pun ditemukan oleh Safwan bin al-Mu’aththal yang bertugas sebagai pengiring pasukan belakang. Tanpa ada pembicaraan apa pun, Safwan kemudian mempersilakannya untuk naik ke untanya.
Dengan menuntun unta yang ditunggangi Aisyah, Safwan dapat menyusul rombongan yang tanpa mereka sadari telah meninggalkan Sayyidah Aisyah.