Prof Nasarudin Umar: Musibah itu Surat Cinta dari Allah SWT
Ajeng ritzki
Senin, 12 Juli 2021 - 14:54 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasarudin Umar Foto:Antara
Orang yang arif atau yang telah mengenal tuhannya akan memahami bahwa musibah adalah surat cinta Allah SWT kepada hamba-Nya. Pernyataan itu disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Profesor KH Nasarudin Umar pada acara Shalawat Nariyah dan Doa Keselamatan Bangsa dari Wabah, Ahad (11/7/2021), malam.
Ia menyatakan boleh jadi sebuah musibah di mata manusia buruk, tapi di mata Allah tidak. Sebaliknya, bisa jadi manusia menganggap sesuatu baik, tapi pada hakikatnya semua itu di mata Allah SWT kurang baik.
Dalam Al-Qur’an, menurut penuturan Prof Nasarudin, terdapat tiga istilah yang dimaksud dengan ujian, yakni azab, musibah, dan bala. Azab merupakan siksaan yang ditimpakan kepada orang yang tidak beriman tapi tidak disentuhkan kepada orang yang beriman. I
Ia lantas mencontohkan kisah Nabi Nuh As dan kaumnya yang beriman selamat dari musibah banjir namun orang kafir binasa. "Saat itu semua orang kafir tenggelam termasuk istri dari Nabi Nuh As dan anak kandungnya, sedang umat Islam yang beriman kepada Nabi Nuh selamat karena saat itu dimasukkan ke kapal Nabi Nuh As," terangnya.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh orang yang saat ini sedang tertimpa ujian? Rektor Institute Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an itu menyarankan agar kita menerima ujian tersebut sebagai musibah.
Ia memaparkan bahwa sebenarnya musibah berbeda dengan azab. Jika azab bermakna menyiksa, sedangkan musibah dalam Al-Qur'an dan hadits dianggap sebagai puncak sebuah kebahagiaan dan kenikmatan.
Terkadang, ujarnya, manusia tidak memahami hikmah di balik musibah, sehingga timbul rasa kecewa dan sering menyalahkan. "Padahal seandainya kita diberikan kearifan oleh Allah SWT pasti kita mampu bersabar menanti apa yang terjadi di balik sebuah musibah dan pada saatnya nanti akan mensyukuri musibah tersebut," kata Prof Nasaruddin.
Ia menyatakan boleh jadi sebuah musibah di mata manusia buruk, tapi di mata Allah tidak. Sebaliknya, bisa jadi manusia menganggap sesuatu baik, tapi pada hakikatnya semua itu di mata Allah SWT kurang baik.
Dalam Al-Qur’an, menurut penuturan Prof Nasarudin, terdapat tiga istilah yang dimaksud dengan ujian, yakni azab, musibah, dan bala. Azab merupakan siksaan yang ditimpakan kepada orang yang tidak beriman tapi tidak disentuhkan kepada orang yang beriman. I
Ia lantas mencontohkan kisah Nabi Nuh As dan kaumnya yang beriman selamat dari musibah banjir namun orang kafir binasa. "Saat itu semua orang kafir tenggelam termasuk istri dari Nabi Nuh As dan anak kandungnya, sedang umat Islam yang beriman kepada Nabi Nuh selamat karena saat itu dimasukkan ke kapal Nabi Nuh As," terangnya.
Lalu apa yang harus dilakukan oleh orang yang saat ini sedang tertimpa ujian? Rektor Institute Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an itu menyarankan agar kita menerima ujian tersebut sebagai musibah.
Ia memaparkan bahwa sebenarnya musibah berbeda dengan azab. Jika azab bermakna menyiksa, sedangkan musibah dalam Al-Qur'an dan hadits dianggap sebagai puncak sebuah kebahagiaan dan kenikmatan.
Terkadang, ujarnya, manusia tidak memahami hikmah di balik musibah, sehingga timbul rasa kecewa dan sering menyalahkan. "Padahal seandainya kita diberikan kearifan oleh Allah SWT pasti kita mampu bersabar menanti apa yang terjadi di balik sebuah musibah dan pada saatnya nanti akan mensyukuri musibah tersebut," kata Prof Nasaruddin.