Literasi Masih Jadi Kendala Perkembangan Keuangan Syariah di Indonesia
Mahmuda attar hussein
Rabu, 22 September 2021 - 18:06 WIB
Ilustrasi literasi syariah Foto: Langit7.id/iStock
Sebagai negara muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam perkembangan keuangan syariah. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sekitar 229 juta orang, Indonesia diyakini mampu menguasai ekonomi syariah dunia. Namun, perlu penguatan dari sisi leterasi syariah.
“Jadi dari sisi potensi ini menjadi pangsa pasar yang cukup besar,” kata Direktur Operasional dan Keuangan PT Bank BCA Syariah, Pranata, secara virtual di Webinar Langit7.id: Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9).
Berdasarkan data dari Global Islamic Economy Report 2020-2021, disebutkan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dari sisi potensinya, di bawah Malaysia, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab. Jika dibandingkan pada 2019, Indonesia sudah naik satu peringkat dari posisi ke-5.
Baca juga:Wapres Sebut Indonesia Berpeluang jadi Pemain Utama Keuangan Syariah
Sehingga, lanjut Pranata, Indonesia memiliki potensi pasar halal yang cukup baik. Hal itu terlihat dari posisi Indonesia yang terus mengalami kenaikan peringkat tiap tahunnya. Bahkan pada 2018 lalu, Indonesia masih menduduki peringkat ke-9.
“Ada beberapa sektor unggulan Indonesia, seperti makanan halal di peringkat ke-4, fesyen peringkat ke-3, wisata ramah muslim dan obat-obatan, serta peringkat kosmetik ke-6, “ jelasnya.
Lebih lanjut, Pranata juga menyebukan, pertumbuhan ekonomi sampai dengan kuartal II-2021 mengalami peningkatan signifikan sebesar 7.07 persen secara tahunan (yoy). Selain itu, pertumbuhan aset dari sisi kredit atau pembiayaan, secara industri keuangan perbankan, termasuk syariah, saat ini masih berkembang cukup baik.
“Jadi dari sisi potensi ini menjadi pangsa pasar yang cukup besar,” kata Direktur Operasional dan Keuangan PT Bank BCA Syariah, Pranata, secara virtual di Webinar Langit7.id: Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9).
Berdasarkan data dari Global Islamic Economy Report 2020-2021, disebutkan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dari sisi potensinya, di bawah Malaysia, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab. Jika dibandingkan pada 2019, Indonesia sudah naik satu peringkat dari posisi ke-5.
Baca juga:Wapres Sebut Indonesia Berpeluang jadi Pemain Utama Keuangan Syariah
Sehingga, lanjut Pranata, Indonesia memiliki potensi pasar halal yang cukup baik. Hal itu terlihat dari posisi Indonesia yang terus mengalami kenaikan peringkat tiap tahunnya. Bahkan pada 2018 lalu, Indonesia masih menduduki peringkat ke-9.
“Ada beberapa sektor unggulan Indonesia, seperti makanan halal di peringkat ke-4, fesyen peringkat ke-3, wisata ramah muslim dan obat-obatan, serta peringkat kosmetik ke-6, “ jelasnya.
Lebih lanjut, Pranata juga menyebukan, pertumbuhan ekonomi sampai dengan kuartal II-2021 mengalami peningkatan signifikan sebesar 7.07 persen secara tahunan (yoy). Selain itu, pertumbuhan aset dari sisi kredit atau pembiayaan, secara industri keuangan perbankan, termasuk syariah, saat ini masih berkembang cukup baik.