LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagai negara muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar dalam perkembangan keuangan syariah. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, sekitar 229 juta orang, Indonesia diyakini mampu menguasai ekonomi syariah dunia. Namun, perlu penguatan dari sisi leterasi syariah.
“Jadi dari sisi potensi ini menjadi pangsa pasar yang cukup besar,” kata Direktur Operasional dan Keuangan PT Bank BCA Syariah, Pranata, secara virtual di Webinar Langit7.id: Potensi Besar Konsumen Muslim yang Belum Digarap Maksimal, Rabu (22/9).
Berdasarkan data dari
Global Islamic Economy Report 2020-2021, disebutkan Indonesia menduduki peringkat ke-4 dari sisi potensinya, di bawah Malaysia, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab. Jika dibandingkan pada 2019, Indonesia sudah naik satu peringkat dari posisi ke-5.
Baca juga: Wapres Sebut Indonesia Berpeluang jadi Pemain Utama Keuangan SyariahSehingga, lanjut Pranata, Indonesia memiliki potensi pasar halal yang cukup baik. Hal itu terlihat dari posisi Indonesia yang terus mengalami kenaikan peringkat tiap tahunnya. Bahkan pada 2018 lalu, Indonesia masih menduduki peringkat ke-9.
“Ada beberapa sektor unggulan Indonesia, seperti makanan halal di peringkat ke-4, fesyen peringkat ke-3, wisata ramah muslim dan obat-obatan, serta peringkat kosmetik ke-6, “ jelasnya.
Lebih lanjut, Pranata juga menyebukan, pertumbuhan ekonomi sampai dengan kuartal II-2021 mengalami peningkatan signifikan sebesar 7.07 persen secara tahunan (yoy). Selain itu, pertumbuhan aset dari sisi kredit atau pembiayaan, secara industri keuangan perbankan, termasuk syariah, saat ini masih berkembang cukup baik.
Jika dibandingkan antara perbankan syariah dengan konvensional, pangsa pasar syariah dari sisi aset mengalami pertumbuhan di atas perbankan konvensional. Namun, memang masih ada kendala dalam hal besaran jumlah aset yang baru sekitar enam persen.
“Dari aset perbankan syariah ini total aset sekitar Rp600 triliun, sedangkan perbankan konvensional berada di angka Rp9.400 triliun. Tapi untuk pertumbuhan perbankan syariah masih terbilang cukup baik,” katanya.
Terkait pembiayaan, lanjut Pranata, di era pandemi Covid-19 ini, untuk permodalan dan investasi memang mengalami penurunan. Namun, jika dilihat dari sisi konsumsi sudah mengalami kenaikan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik.
Sementara
marketshare untuk perbankan syariah masih diangka 6,4 persen. Ini membuktikan bahwa
marketshare perbankan syariah masih cukup rendah walaupun masih mengalami pertumbuhan yang cukup baik.
“Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk meningkatkan pangsa pasar syariah di tanah air. Termasuk dari tingkat literasi syariah yang masih di bawah konvensional, yakni sekitar 8.9 persen dibandingkan konvensional yang mencapai 37 persen,” katanya.
Menurutnya, peran media sangat penting untuk meningkatkan literasi terkait perbankan syariah. Sementara untuk inklusi keuangan, Pranata menyebutkan masih diperlukan perluasan akses, seperti penggunaan transformasi digital.
Baca juga: YLKI Sebut Pelaku Usaha di Indonesia Belum Ambil Peluang Besar Produk HalalHal itu dilakukan demi bisa mengedepankan perbankan syariah yang saat ini menjadi andalan dalam perekonomian. Pranata berharap, dengan hal itu dapat membuat perbankan syariah mampu melebihi perbankan konvensional, mulai dari produk hingga pelayanannya.
Ia menambahkan, saat ini pemerintah perlu berfokus terhadap pengembangan industri halal, memperkuat sektor keuangan syariah, dan keuangan sosial syaraiah, serta pengembangan kewirausahaan syariah.
Menurutnya, berbicara syariah, sudah banyak masyarakat yang ingin menggunakan layanan perbankan untuk melakukan transaksi berbasis syariah. Untuk itu perlu ada dukungan dari sisir rasionalnya, agar tidak menjadi kendala ke depan, seperti produknya yang lebih mahal.
“
Emotional bonding dan keunikan produk dari syariah inilah yang menjadi nilai lebih. Tentunya kita juga perlu memperluas cakupan areanya, termasuk peningkatan layanan,” imbuhnya.
(zul)