home global news

Peran Besar Arab Saudi Jadi Mediator AS-Rusia: Dari Pembebasan Tahanan Hingga Upaya Damai Ukraina

Jum'at, 21 Februari 2025 - 08:55 WIB
Peran Besar Arab Saudi Jadi Mediator AS-Rusia: Dari Pembebasan Tahanan Hingga Upaya Damai Ukraina
LANGIT7.ID-Jakarta; Peran strategis Arab Saudi dalam diplomasi internasional kembali mencuri perhatian dunia. Kerajaan ini berhasil memediasi berbagai konflik sensitif antara Amerika Serikat dan Rusia, mulai dari pembebasan tahanan perang hingga negosiasi tingkat tinggi. Meski berkontribusi signifikan dalam diplomasi global, upaya mediasi Arab Saudi sering kurang mendapat pengakuan dari sekutu lamanya di Barat.

Kesuksesan diplomasi Arab Saudi terlihat sejak 2022, saat Kerajaan berhasil memediasi pembebasan sepuluh tawanan perang dari wilayah konflik Ukraina. Dua warga Amerika termasuk dalam pembebasan ini, membuktikan kepiawaian Riyadh dalam negosiasi internasional tingkat tinggi.

Prestasi mediasi Arab Saudi berlanjut ketika Putra Mahkota Mohammed bin Salman berhasil menengahi pembebasan atlet WNBA Brittney Griner dari tahanan Rusia. Meski proses serah terima dilakukan di Abu Dhabi, peran Riyadh sangat sentral dalam kesepakatan ini. Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan menggarisbawahi peran langsung Putra Mahkota dalam pembebasan ini.

Riyadh bersama Abu Dhabi kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang menyoroti kontribusi penting MBS dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed dalam kesuksesan pertukaran tahanan tersebut.

Prestasi mediasi Arab Saudi kembali terlihat saat berhasil membebaskan jurnalis Wall Street Journal Evan Gershkovich dari penahanan Rusia. Meski Amerika Serikat lebih memilih berterima kasih kepada negara-negara Eropa, Arab Saudi tetap konsisten menawarkan bantuan diplomatiknya.

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan 2024 membuat berbagai pihak internasional menggandeng Arab Saudi untuk mengakhiri perang Ukraina. Menyadari dinamika kebijakan luar negeri AS yang bisa berubah drastis, Arab Saudi dengan cerdas mengambil posisi netral untuk menjaga hubungan dengan semua pihak.

Meski sempat dikritik AS dan dituduh pro-Rusia, Riyadh tetap konsisten dengan diplomasi seimbangnya. Tekanan AS agar Saudi mengubah kebijakan energi menjelang pemilu paruh waktu akhirnya berubah menjadi kerjasama. AS bahkan mencari dukungan Saudi untuk normalisasi hubungan dengan Israel, mengakui peran pentingnya sebagai stabilisator kawasan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya