Kisah Negeri Saba yang Subur Penduduknya Makmur tapi Terkena Azab Allah Taala
Miftah yusufpati
Ahad, 23 Februari 2025 - 05:15 WIB
Negeri Saba pada awalnya sangat subur. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Kisah negeri Saba yang subur dan makmur, namun diisi penduduk yang berpaling dari Allah SWT dengan menyembah matahari diinformasikan dalam Al-Qur'an surat Saba ayat 15-16 dan surat An-Naml ayat 22-24.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan negeri Saba subur berkat adanya bendungan yang dinamakan Saddi Ma'rib, yang pada mulanya air datang kepada mereka dari celah-celah yang ada di antara kedua bukit, lalu berkumpul di lembah dan bercampur dengan air hujan yang turun kepada mereka dari bukit-bukit yang ada di sekitarnya.
Lalu raja-raja mereka dahulu membuat rencana untuk memanfaatkan air tersebut, maka mereka membangun sebuah dam yang besar lagi kokoh guna membendung air tersebut.
Akhirnya permukaan air naik dan memenuhi lembah yang ada di antara kedua bukit tersebut. Kemudian mereka menanam pohon-pohon dan bercocok tanam, serta menghasilkan buah-buahan yang sangat banyak dan bermutu baik. Sebagaimana yang telah diceritakan oleh bukan seorang dari kalangan ulama Salaf, antara lain Qatadah.
Disebutkan bahwa seorang wanita dari kalangan mereka berjalan di bawah pepohonan dengan membawa keranjang atau wadah buah-buahan di atas kepalanya.
Maka buah-buahan berjatuhan memenuhi keranjangÂnya tanpa susah payah harus memetiknya karena buahnya rimbun dan masak-masak.
Baca juga: Kisah Ashab al-Sabt: Yahudi yang Terkena Azab Menjadi Kera
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan negeri Saba subur berkat adanya bendungan yang dinamakan Saddi Ma'rib, yang pada mulanya air datang kepada mereka dari celah-celah yang ada di antara kedua bukit, lalu berkumpul di lembah dan bercampur dengan air hujan yang turun kepada mereka dari bukit-bukit yang ada di sekitarnya.
Lalu raja-raja mereka dahulu membuat rencana untuk memanfaatkan air tersebut, maka mereka membangun sebuah dam yang besar lagi kokoh guna membendung air tersebut.
Akhirnya permukaan air naik dan memenuhi lembah yang ada di antara kedua bukit tersebut. Kemudian mereka menanam pohon-pohon dan bercocok tanam, serta menghasilkan buah-buahan yang sangat banyak dan bermutu baik. Sebagaimana yang telah diceritakan oleh bukan seorang dari kalangan ulama Salaf, antara lain Qatadah.
Disebutkan bahwa seorang wanita dari kalangan mereka berjalan di bawah pepohonan dengan membawa keranjang atau wadah buah-buahan di atas kepalanya.
Maka buah-buahan berjatuhan memenuhi keranjangÂnya tanpa susah payah harus memetiknya karena buahnya rimbun dan masak-masak.
Baca juga: Kisah Ashab al-Sabt: Yahudi yang Terkena Azab Menjadi Kera