home masjid

Ini Mengapa Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Melarang Menyebut Ramadan Tanpa Bulan

Senin, 03 Maret 2025 - 05:00 WIB
Syaikh Abdul Qadir al Jilani. Ilustrasi: shopee
LANGIT7.ID--Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab "al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqqa Azza wa Jalla" mengurai tafsir puasa dan makna Ramadan. Beliau pun menjelaskan persoalan syariat dan perintah puasa yang juga berlaku pada umat-umat terdahulu, terutama Yahudi dan Kristen.

Ini dipantik dari diskusi tafsiran kalimat “kama kutiba alalladzina min qablikum” dalam surat al-Baqarah [2] ayat 183.

Dalam mengurai makna Ramadan, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengutip satu hadis yang bersumber dari Ibnu Umar ra yang mengisahkan sabda Nabi Muhammad SAW: “Kita adalah umat yang ummiy (buta huruf), kita tidak bisa menulis dan tidak pula menghitung. Satu bulan itu sama dengan begini, begini, dan begini (beliau menurunkan ibu jarinya pada kali yang ketiga), dengan mengenapkan menjadi tiga puluh.”

Menurutnya, dinamakan bulan (syahr) karena putihnya. Ini terambil dari kata syahirat (putih) yang artinya keputihan (al-bayadh).

Selain itu, ada pula yang mengatakan: pedang itu tampak putih kemilau (syahirat) ketika terhunus; bulan terlihat terang keputihan saat kemunculannya.

Bertolak dari pengertian ini, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani melanjutkan pembahasan tentang perbedaan makna Ramadan. Sebagian mengartikan dan memaknai Ramadan sebagai nama Allah SWT.

Baca juga: Puasa Menurut Al-Qur'an: 3 Ayat tentang Puasa Ramadan Terputus-putus
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya