Puasa Ada Dua: Lahir dan Batin, Begini Penjelasan Imam An-Naisaburi
Miftah yusufpati
Senin, 03 Maret 2025 - 17:33 WIB
Peganglah ilmu, lapar, lemah (khumul), dan puasa. Karena ilmu adalah cahaya yang menerangi, dan lapar adalah hikmah. Ilustrasi: Gulf News
LANGIT7.ID-Puasa itu ada dua: puasa lahir dan puasa batin. Abul Qashim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam bukunya berjudul "Lathaif al-Isyarat" menjelaskan puasa lahir sebatas menahan (dari lapar dan dahaga) dari segala sesuatu yang membatalkan disertai dengan niat.
Sementara puasa batin adalah puasanya hati (qalb) dari segala penyakitnya; puasa jiwa (roh) dari semua bentuk kenyamanan dan ketenangan; puasa sirr dari segala bentuk pengawasan.
An-Naisaburi juga menjelaskan, "Bagi siapa yang sekadar menahan sesuatu yang membatalkan maka akhir dari puasanya ketika tersingkapnya malam. Dan siapa yang puasa menahan diri beragam kecemburuan (aghyar), maka puncak puasanya dengan menyaksikan al-Haqq".
Ini seperti isyarat hadis Nabi Muhammad SAW, “Shumu wa afthiru li ruyatihi.”
Penggalan hadis ini dalam pandangan kaum sufi memiliki makna yang berbeda dari makna lahiriahnya. Huruf ha dhamir di akhir kalimat ini merujuk kepada Allah SWT.
Demikian pula pernyataan terakhir di atas secara lahir diartikan dengan: “Berpuasalah kalian ketika melihat hilal (bulan) Ramadhan, dan berbukalah tatkala melihat hilal bulan Syawal.”
Sementara itu, bagi kaum khawas (khusus) maka puasa mereka benar-benar untuk Allah SWT. Karena mereka menyaksikan Allah, berbuka bersama-Nya, penerimaan mereka karena Allah, dan mereka senantiasa diliputi Allah.
Sementara puasa batin adalah puasanya hati (qalb) dari segala penyakitnya; puasa jiwa (roh) dari semua bentuk kenyamanan dan ketenangan; puasa sirr dari segala bentuk pengawasan.
An-Naisaburi juga menjelaskan, "Bagi siapa yang sekadar menahan sesuatu yang membatalkan maka akhir dari puasanya ketika tersingkapnya malam. Dan siapa yang puasa menahan diri beragam kecemburuan (aghyar), maka puncak puasanya dengan menyaksikan al-Haqq".
Ini seperti isyarat hadis Nabi Muhammad SAW, “Shumu wa afthiru li ruyatihi.”
Penggalan hadis ini dalam pandangan kaum sufi memiliki makna yang berbeda dari makna lahiriahnya. Huruf ha dhamir di akhir kalimat ini merujuk kepada Allah SWT.
Demikian pula pernyataan terakhir di atas secara lahir diartikan dengan: “Berpuasalah kalian ketika melihat hilal (bulan) Ramadhan, dan berbukalah tatkala melihat hilal bulan Syawal.”
Sementara itu, bagi kaum khawas (khusus) maka puasa mereka benar-benar untuk Allah SWT. Karena mereka menyaksikan Allah, berbuka bersama-Nya, penerimaan mereka karena Allah, dan mereka senantiasa diliputi Allah.