LANGIT7.ID-Jakarta; Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Tim mahasiswa FT berhasil meraih Juara 3 dalam ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia melalui Centre of Entrepreneurial Development and Graduate Marketability (CEM), Malaysia. Kompetisi dan forum internasional tersebut berlangsung pada (29/5-1/6/2026) di Kuala Lumpur, Malaysia, dan diikuti oleh peserta dari enam negara dengan total 465 peserta.
Kompetisi ini menjadi wadah bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara untuk mempresentasikan gagasan, penelitian, dan inovasi yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Pada tahap final, peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Brawijaya, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Malang, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya. Selain Indonesia, finalis juga berasal dari Malaysia dan South Sudan.
Tim FT yang meraih penghargaan tersebut beranggotakan Muhammad Pandu Pradana, Aina Salsabila, Fahmy Almaliki Dwi Aditya, Irsyad Annafi Nurhikmah, dan Muhammad Nashirulloh Aryanto. Mereka dibimbing oleh Eka Maulana, S.T., M.T., M.Eng. dan Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D. Keberhasilan ini menjadi bukti kemampuan mahasiswa FT dalam menghasilkan gagasan inovatif yang mampu bersaing di tingkat global.
Dalam kompetisi tersebut, tim FT UB mengusung karya berjudul “KALAOTOA RISE: A Framework for The Development of A Resilient, Integrated, Smart, and Ecological Island on Kalaotoa Island, South Sulawesi.” Gagasan ini menawarkan kerangka pengembangan pulau kecil berbasis energi terbarukan, teknologi pintar, dan keberlanjutan ekologi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), khususnya Pulau Kalaotoa di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
“Konsep KALAOTOA RISE mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan, seperti teknologi Oscillating Water Column (OWC) untuk memanfaatkan energi gelombang laut, kombinasi turbin angin HAWT–VAWT, serta teknologi Bio-Solar DSSC berbasis pigmen organik local,” kata Aina Salsabila dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Aina melanjutkan bahwa Seluruh sumber energi tersebut dirancang terhubung dalam sistem microgrid yang dikelola menggunakan Smart Energy Management System (SEMS) berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT). Selain itu, sistem yang dikembangkan juga dilengkapi dengan bank baterai LiFePO₄, konsep penyimpanan energi berbasis hidrogen, serta mekanisme community energy trading.
Melalui inovasi tersebut, tim FT menargetkan beberapa dampak strategis, antara lain meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di Pulau Kalaotoa, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar diesel, memperkuat konektivitas digital dan infrastruktur transportasi, serta meningkatkan kualitas layanan publik. Tidak hanya itu, konsep yang diusung juga diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata dan pelestarian ekosistem pesisir melalui pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan.
Tim juga berharap model pengembangan yang dirancang dapat direplikasi pada wilayah kepulauan dan daerah terpencil lainnya di Indonesia. Dengan demikian, KALAOTOA RISE tidak hanya menjadi solusi untuk Pulau Kalaotoa, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap upaya transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.
Aina Salsabila, mengungkapkan kompetisi internasional bukan sekadar ajang meraih penghargaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan gagasan dan membangun jejaring global. “Jangan menunggu semua data, alat, atau pendanaan menjadi sempurna untuk mulai berkarya. Mulailah dari masalah nyata di sekitar kita dan berani membangun kolaborasi lintas disiplin. Kompetisi bukan hanya tempat mencari medali, tetapi ruang untuk menguji ide, belajar menyampaikan riset secara profesional, dan memperluas jejaring,” katanya.
Prestasi yang diraih mahasiswa FT pada International Youth Summit 2026 semakin memperkuat reputasi Universitas Brawijaya sebagai kampus yang mendorong lahirnya inovasi dan solusi berbasis riset untuk menjawab berbagai tantangan global. Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan mahasiswa Indonesia mampu menghadirkan gagasan visioner yang relevan dengan kebutuhan pembangunan masa depan.
(lam)