home global news

LTN PWNU Jatim Gandeng "Influencer" untuk Dakwahkan NU

Rabu, 05 Maret 2025 - 23:00 WIB
Ketua LTN PWNU Jatim H Helmy M Noor (kiri) dalam program Ngaji Nusantara PWNU Jatim di Surabaya, Rabu (5/3/2025),
Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur siap menggandeng "influencer" (pemengaruh) untuk mendakwahkan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang ramah bagi siapapun.

"Sekarang, kami masih menata kolaborasi antar-lembaga di PWNU untuk melakukan lompatan dakwah digital, tapi ke depan kami akan menggandeng inluencer, karena Generasi Z memang perlu didampingi, bukan dihakimi," kata Ketua LTN PWNU Jatim H Helmy M Noor dalam program 'Ngaji Nusantara' PWNU Jatim di Surabaya, Rabu (5/3/2025).

Dalam program "ngaji" bertema "Dakwah Digital: Solusi Sindrom Candu Smartphone di Kalangan Gen Z" yang dibuka Sekretaris PWNU Jatim DR Ir Muhammad Faqih itu, Helmy mengisi sesi kajian tematik bersama Prof Dr Masdar Hilmy (Ketua LP Ma’arif NU Jatim), lalu dilanjut sesi tausiyah oleh KH. Abd. Matin Djawahir (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim).

"Ngaji Nusantara pada setiap Ramadhan ini merupakan lompatan dakwah digital yang perlu dikembangkan terus, apalagi PWNU Jatim telah menjadi inisiator dan penggerak dakwah digital di NU dengan mengadakan Istighotsah Kubro Digital saat COVID-19 melalui zoom di PWNU Jatim, lalu Lirboyo 15, dan Gedung Negara Grahadi. Pesertanya ada 3 jutaan, tentu ini lompatan dakwah digital yang luar biasa," katanya.

Baca juga:Sambut Ramadhan, PWNU Jatim Adakan Ngaji Nusantara pada 5-20 Maret

Menurut "santri" mantan Ketua Umum PBNU KHA Hasyim Muzadi itu, NU memang sudah saatnya menggerakkan dakwah secara digital, karena dakwah memang perlu "kemasan" kekinian sesuai zaman/era, meski konten tidak perlu diubah, tapi kemasan harus berubah dalam bentuk video pendek, animasi, quote, dan sebagainya agar tidak terkesan kuno dan berat.

"Kalau ada 'rebranding' dalam kemasan dakwah menjadi lebih kekinian melalui digitalisasi, maka siswa yang terbiasa dengan akun tertentu akan 'rindu' dengan guru lewat dunia digital, sehingga siswa tidak ketagihan dengan ustadz-ustadz artis hanya karena mampu bicara dalam 5 menit saja. Nah, dakwah kedepan juga perlu kemasan 5 menit," katanya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya