Wamenag: Pemahaman Keagamaan Akademisi Harus Adil dan Seimbang
Ahmad zuhdi
Jum'at, 24 September 2021 - 20:30 WIB
Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi (foto: kemenag.go.id)
Mahasiswa perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) harus menjadi katalisator dan dinamisator dalam penguatan moderasi beragama. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi pada pembukaan Kuliah Perdana Institut Agama Islam (IAI) As'adiyah, Sengkang Sulawesi Selatan.
Zainut mengatakan, pemahaman keagamaan yang adil dan seimbang seharusnya lebih mudah hadir pada mereka yang berada dalam atmosfer lingkungan akademis. Sebab, lingkungan ini mengutamakan dialog inklusif dan terukur dalam menghadapi perbedaan.
"Mahasiswa mesti mampu merawat nilai-nilai yang merupakan hakikat agama dan ilmu pengetahuan. Yaitu, nilai-nilai yang sesungguhnya untuk kemanusiaan, dan untuk menjawab permasalahan kemanusiaan," tuturnya dalam keterangan yang diterima LANGIT7.ID, Jumat (24/9).
Baca juga:Turki Desak Yunani Tak Batasi Siswa Muslim Praktikkan Keyakinan di Sekolah
"Dalam konteks moderasi beragama, nilai-nilai kemanusiaan itu termanifestasi pada komitmen kebangsaan, toleran, beragama tanpa kekerasan, dan menghormati kearifan lokal," sambungnya.
Zainut mengingatkan bahwa Perguruan Tinggi adalah lembaga akademis. Mahasiswa Perguruan Tinggi diharapkan menjadi katalisator sekaligus dinamisator yang mampu mengedukasi masyarakat dalam penguatan moderasi beragama.
"Publik perlu mendapat pencerahan mengenai pentingnya untuk memiliki pemahaman adil dan seimbang, demi merawat keharmonisan masyarakat, dan relasi harmonis antara agama dan negara dalam konteks keindonesiaan," katanya
Zainut mengatakan, pemahaman keagamaan yang adil dan seimbang seharusnya lebih mudah hadir pada mereka yang berada dalam atmosfer lingkungan akademis. Sebab, lingkungan ini mengutamakan dialog inklusif dan terukur dalam menghadapi perbedaan.
"Mahasiswa mesti mampu merawat nilai-nilai yang merupakan hakikat agama dan ilmu pengetahuan. Yaitu, nilai-nilai yang sesungguhnya untuk kemanusiaan, dan untuk menjawab permasalahan kemanusiaan," tuturnya dalam keterangan yang diterima LANGIT7.ID, Jumat (24/9).
Baca juga:Turki Desak Yunani Tak Batasi Siswa Muslim Praktikkan Keyakinan di Sekolah
"Dalam konteks moderasi beragama, nilai-nilai kemanusiaan itu termanifestasi pada komitmen kebangsaan, toleran, beragama tanpa kekerasan, dan menghormati kearifan lokal," sambungnya.
Zainut mengingatkan bahwa Perguruan Tinggi adalah lembaga akademis. Mahasiswa Perguruan Tinggi diharapkan menjadi katalisator sekaligus dinamisator yang mampu mengedukasi masyarakat dalam penguatan moderasi beragama.
"Publik perlu mendapat pencerahan mengenai pentingnya untuk memiliki pemahaman adil dan seimbang, demi merawat keharmonisan masyarakat, dan relasi harmonis antara agama dan negara dalam konteks keindonesiaan," katanya