home masjid

Unsur Pengetahuan yang Menciptakan Hakikat Tobat, Begini Penjelasannya

Sabtu, 08 Maret 2025 - 18:20 WIB
Tobat yang pertama adalah: bangunnya hati dari kelalaian, serta sang hamba melihat kondisi yang buruk akibat dosa yang ia poerbuat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID--Syaikh Yusuf Al-Qardhawi mengatakan hakikat tobat yang diperintahkan Allah SWT bagi seluruh kaum mukminin agar mereka beruntung, serta memerintahkan agar mereka bertobat dengan taubat nasuha.

Unsur atau faktor pertama tobat adalah unsur pengetahuan. Yang tampak dalam pengetahuan manusia akan kesalahannya dan dosanya ketika ia melakukan kemaksiatan kepada Rabbnya. Matanya terbuka sehingga ia dapat melihat kesalahannya itu, melepaskan sumbatan dari telinganya sehingga ia dapat mendengar, dan mengusir kegelapan dari akalnya sehingga ia dapat berpikir, dalam setiap kesempatan kembalinya diri kepada fitrahnya.

"Saat itu ia akan mengetahui keagungan Rabbnya, kemuliaan maqam-Nya dan kebesaran hak-Nya," tutur AL-Qardhawi dalam bukunya berjudul "at Taubat Ila Allah" yang ditejemahkan Abdul Hayyie al Kattani (Maktabah Wahbah, Kairo 1998)

"Juga mengetahui kekurangan dirinya, mengapa ia mengikuti setan, serta kerugiannya yang jelas di dunia dan akhirat jika ia terus berjalan mengikuti perilaku Iblis dan tentaranya," lanjut al-Qardhawi.

Saat itu, manusia butuh untuk memusatkan pikirannya, menggunakan akalnya, serta merenungi dengan dalam tentang dirinya dan apa yang berada di sekelilingnya, nilai-nilai yang ia miliki, perjalanan dirinya, akhir perjalanannya ke mana, makna kehidupannya, kematian dan apa setelah kematiannya, tentang nikmat Allah yang demikian besar baginya, sikapnya terhadap nikmat-nikmat itu, tentang nikmat Allah yang terus turun kepadanya, dan kejahatan dirinya akan dilaporkan kepada Allah.

Baca juga: Tobat Adalah Reparasi dan Penyembuhan bagi Keimanan yang Mengalami Kerusakan

Allah SWT akan menghidupkan cintanya dengan memberikan ni'mat kepadaanya walaupun Allah SWT tidak butuh kepadanya. Ia mendorong kemarahan Allah dengan melakukan maksiat, sedangkan ia adalah orang yang amat membutuhkan Allah, dan Allah tidak menutup pintu-Nya bagi hamba-hambaNya, meskipun mereka telah melampaui batas terhdap diri mereka sendiri, dan Allah terus memanggil mereka: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". (QS. az-Zumar: 53
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya