Kisah Ajaran Syaikhh Sufi Daud: Keterbatasan Dogma
Miftah yusufpati
Senin, 24 Maret 2025 - 03:00 WIB
Kisah ini, tanpa disertai penafsiran yang ditampilkan di sini, ditemukan dalam karya klasik ternama, Akhlaq-i-Mohsini (Etika Dermawan) yang dikarang oleh Hasan Waiz Kashifi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID--Kisah ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".
Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung sedang berada di jalan di Ghazna, ibukota kerajaannya. Ia menyaksikan seorang kuli susah payah mengangkat sebongkah batu besar di pundaknya. Tergerak oleh belas kasihan atas keadaan kuli itu dan karena tak sanggup menahan rasa haru, Mahmud pun memanggilnya, dalam perintah raja, "Turunkan batu itu, Kuli."
Segera saja perintah itu dipatuhi. Batu itu pun teronggok di sana, menghambat semua orang yang mencoba lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, beberapa orang mewakili rakyat untuk menghadap raja, memohon kepadanya agar memerintahkan supaya batu itu dipindahkan.
Namun, Mahmud, yang memikirkan wibawa kerajaan, terpaksa menjawab, "Segala hal yang sudah dilaksanakan atas perintah raja tidak dapat dibatalkan oleh perintah lain yang memiliki kekuatan hukum yang sama. Kalau tidak demikian, maka rakyat akan berpikir bahwa perintah raja hanya iseng belaka. Batu itu akan tetap di tempatnya sekarang."
Demikianlah, batu itu tidak dipindahkan sepanjang sisa hidup Sultan Mahmud. Bahkan, setelah ia meninggal pun batu itu tetap di sana sebagai tanda penghormatan kepada perintah raja.
Baca juga: Kisah Sufi: si Tolol, si Bijak dan Kendi
---
Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung sedang berada di jalan di Ghazna, ibukota kerajaannya. Ia menyaksikan seorang kuli susah payah mengangkat sebongkah batu besar di pundaknya. Tergerak oleh belas kasihan atas keadaan kuli itu dan karena tak sanggup menahan rasa haru, Mahmud pun memanggilnya, dalam perintah raja, "Turunkan batu itu, Kuli."
Segera saja perintah itu dipatuhi. Batu itu pun teronggok di sana, menghambat semua orang yang mencoba lewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, beberapa orang mewakili rakyat untuk menghadap raja, memohon kepadanya agar memerintahkan supaya batu itu dipindahkan.
Namun, Mahmud, yang memikirkan wibawa kerajaan, terpaksa menjawab, "Segala hal yang sudah dilaksanakan atas perintah raja tidak dapat dibatalkan oleh perintah lain yang memiliki kekuatan hukum yang sama. Kalau tidak demikian, maka rakyat akan berpikir bahwa perintah raja hanya iseng belaka. Batu itu akan tetap di tempatnya sekarang."
Demikianlah, batu itu tidak dipindahkan sepanjang sisa hidup Sultan Mahmud. Bahkan, setelah ia meninggal pun batu itu tetap di sana sebagai tanda penghormatan kepada perintah raja.
Baca juga: Kisah Sufi: si Tolol, si Bijak dan Kendi
---