Guru Besar Unair Beberkan Strategi Mengelola Keuangan Jelang Idul Fitri
Tim langit 7
Jum'at, 28 Maret 2025 - 22:32 WIB
Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi dr Sp A(K), guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga
Perilaku konsumtif cenderung dilakukan masyarakat menjelang Idul Fitri. Kondisi ini sebagai konsekuensi sosial dan budaya saat hari raya keagamaan tiba.
Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Yuanr) Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi dr Sp A(K), memberikan tanggapannya terkait strategi mengelola keuangan yang baik dan kondisi daya beli masyarakat sekarang.
“Daya beli masyarakat secara umum lebih rendah daripada hari raya (red: tahun) sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi makro saat ini sedang tidak baik. Ada banyak indikator penyebab, salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang sedang melemah.
Pada dasarnya, di setiap hari raya keagamaan apa pun, akan terjadi pengeluaran ekstra. Prinsip agar keuangan tetap terjaga adalah memastikan pengeluaran ekstra tersebut tidak lebih dari pendapatan ekstra kita. Jadi, penyesuaian antara pengeluaran dan pendapatan sangat krusial.
“Kita harus mengubah mindset bahwa sesuatu yang konsumtif itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Jadi, secukupnya saja, tidak berlebihan,” ungkap Tika.
Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Yuanr) Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi dr Sp A(K), memberikan tanggapannya terkait strategi mengelola keuangan yang baik dan kondisi daya beli masyarakat sekarang.
“Daya beli masyarakat secara umum lebih rendah daripada hari raya (red: tahun) sebelumnya,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi makro saat ini sedang tidak baik. Ada banyak indikator penyebab, salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang sedang melemah.
Pada dasarnya, di setiap hari raya keagamaan apa pun, akan terjadi pengeluaran ekstra. Prinsip agar keuangan tetap terjaga adalah memastikan pengeluaran ekstra tersebut tidak lebih dari pendapatan ekstra kita. Jadi, penyesuaian antara pengeluaran dan pendapatan sangat krusial.
“Kita harus mengubah mindset bahwa sesuatu yang konsumtif itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Jadi, secukupnya saja, tidak berlebihan,” ungkap Tika.