Kolom Ngabuburit Senja: Beragama versus Beriman
Tim langit 7
Sabtu, 29 Maret 2025 - 17:27 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Beragama versus Beriman
LANGIT7.ID- "Walaupun saya jarang salat, tetapi kalau agama saya dihina, saya akan bela mati-matian, saya akan berjihad." Kalimat itu diucapkan oleh teman atau sekelompok orang, yang sampai hari ini masih terus mengusik pikiran. Sungguh salut pada orang-orang yang memiliki ghirah jihadnya membela agama begitu tinggi. Itulah yang seharusnya dimiliki, yang mana saya merasakan masih sangat jauh untuk mencapai ke level itu. Namun, menariknya, di telinga, kalimat itu terdengar kontradiktif. Penggalan kalimatnya saling menegasikan.
Mira kita diskusikan. Ada ungkapan paling populer yang diperkenalkan sejak di madrasah tingkat dasar atau saat memulai belajar mengaji di langgar (surau). Bahwa salat itu adalah tiang agama (assholatu 'imaduddin). Ungkapan itu berasal dari hadits yang di- tahqiq Syekh Abu Ishaq Al-Huwainy. Kalimat lengkapnya adalah “Salat adalah tiang agama, siapa yang mendirikan salat, berarti ia menegakkan sendi-sendi agama, dan siapa yang meninggalkan salat, berarti ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.”
Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Ketika Mulut Terkunci
Jelas bahwa salat dan agama berhubungan sangat dekat, saling memengaruhi. Agama akan tegak ketika salat dikerjakan. Tetapi ketika salat ditinggalkan, otomatis agama runtuh. Jadi sebetulnya orang yang jarang/tidak salat itulah yang meruntuhkan agama. Artinya dia telah menghina agamanya sendiri. Seharusnya dia berjihad melawan dirinya sendiri. Jika selesai dengan dirinya, dia akan kuat menghadapi musuh-musuh yang hendak menghancurkan agamanya.
Memang sering ditemui tidak sedikit orang yang bereaksi secara impulsif, tergesa-gesa, tanpa pemahaman atau pertimbangan yang lebih matang. Mesti disadari pula bahwa pemahaman terhadap agama tidak sama setiap orang, terlebih lagi jika berbicara soal tafsir agama. Banyak orang melihat agama secara kasatmata dan simbolik, dan mereduksi menjadi persoalan agama. Misal, ada orang yang menghalangi orang-orang usai salat tarawih di masjid dianggap menghalang-halangi agama. Ada restoran atau warung makan buka di bulan puasa ramai-ramai digerebek dan disegel karena dianggap melanggar perintah agama.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Yahudi Juga Manusia
Jadi beragama itu seperti apa? Agama adalah universal. Tetapi dipahami berbeda oleh orang yang berbeda, bahkan definisinya saja tidak sama. Dalam bahasa Inggris, disebut religion, yang berasal dari bahasa Latin, religare. Maknanya "mengikat" atau juga "berhati-hati". Paling umum dipercaya dari bahasa Sanskerta, yaitu “tidak kacau”. Dalam Islam dikenal istilah din(bahasa Arab). Secara etimologi, makna kata dinsetidaknya ada empat: keadaan berutang, tunduk atau penyerahan diri, kekuatan hukum, dan kehendak hati/kecenderungan alamiah. Maka Syed Naquib Al-Attas dalam Prolegomena To The Metaphysics Of Islam(1995) mendefinisikan konsep dinadalah suatu sistem ajaran yang menyiratkan ketundukan kepada Tuhan, dan adanya perasaan berutang dalam ruh manusia karena Tuhan telah membawa manusia dari alam pra-ada kepada ada.
Mira kita diskusikan. Ada ungkapan paling populer yang diperkenalkan sejak di madrasah tingkat dasar atau saat memulai belajar mengaji di langgar (surau). Bahwa salat itu adalah tiang agama (assholatu 'imaduddin). Ungkapan itu berasal dari hadits yang di- tahqiq Syekh Abu Ishaq Al-Huwainy. Kalimat lengkapnya adalah “Salat adalah tiang agama, siapa yang mendirikan salat, berarti ia menegakkan sendi-sendi agama, dan siapa yang meninggalkan salat, berarti ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.”
Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Ketika Mulut Terkunci
Jelas bahwa salat dan agama berhubungan sangat dekat, saling memengaruhi. Agama akan tegak ketika salat dikerjakan. Tetapi ketika salat ditinggalkan, otomatis agama runtuh. Jadi sebetulnya orang yang jarang/tidak salat itulah yang meruntuhkan agama. Artinya dia telah menghina agamanya sendiri. Seharusnya dia berjihad melawan dirinya sendiri. Jika selesai dengan dirinya, dia akan kuat menghadapi musuh-musuh yang hendak menghancurkan agamanya.
Memang sering ditemui tidak sedikit orang yang bereaksi secara impulsif, tergesa-gesa, tanpa pemahaman atau pertimbangan yang lebih matang. Mesti disadari pula bahwa pemahaman terhadap agama tidak sama setiap orang, terlebih lagi jika berbicara soal tafsir agama. Banyak orang melihat agama secara kasatmata dan simbolik, dan mereduksi menjadi persoalan agama. Misal, ada orang yang menghalangi orang-orang usai salat tarawih di masjid dianggap menghalang-halangi agama. Ada restoran atau warung makan buka di bulan puasa ramai-ramai digerebek dan disegel karena dianggap melanggar perintah agama.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Yahudi Juga Manusia
Jadi beragama itu seperti apa? Agama adalah universal. Tetapi dipahami berbeda oleh orang yang berbeda, bahkan definisinya saja tidak sama. Dalam bahasa Inggris, disebut religion, yang berasal dari bahasa Latin, religare. Maknanya "mengikat" atau juga "berhati-hati". Paling umum dipercaya dari bahasa Sanskerta, yaitu “tidak kacau”. Dalam Islam dikenal istilah din(bahasa Arab). Secara etimologi, makna kata dinsetidaknya ada empat: keadaan berutang, tunduk atau penyerahan diri, kekuatan hukum, dan kehendak hati/kecenderungan alamiah. Maka Syed Naquib Al-Attas dalam Prolegomena To The Metaphysics Of Islam(1995) mendefinisikan konsep dinadalah suatu sistem ajaran yang menyiratkan ketundukan kepada Tuhan, dan adanya perasaan berutang dalam ruh manusia karena Tuhan telah membawa manusia dari alam pra-ada kepada ada.