Pakar Budaya Paparkan Sejarah Malam Takbiran di Nusantara
Tim langit 7
Ahad, 30 Maret 2025 - 20:52 WIB
ilustrasi
Malam takbiran menjadi momen istimewa bagi umat Islam menjelang Idul Fitri. Gema takbir yang berkumandang dari masjid menandai kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Di Indonesia, takbiran bukan sekadar ritual ibadah, melainkan warisan budaya Islam yang kaya dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Sejarah Takbiran Nusantara
Pakar budaya Islam Fakultas Ilmu Budaya Univeristas Airlangga (Unair) Ahmad Syauqi S Hum MSi mengungkap sejarah tradisi takbiran di Nusantara sudah ada sejak masa kesultanan Islam. Tepatnya abad 15-18 M tradisi takbiran identik dengan tradisi keagamaan Islam.
Era kedua yaitu kolonial, sekitar abad 19-20 M pada zaman belanda dilaksanakan dengan kondisi yang terbatas. “Takbiran juga seringkali menjadi bentuk perlawanan simbolis era penjajahan,” terangnya.
Hingga kini takbiran identik dengan tabuhan bedug yang menggema. Namun, seiring waktu, tradisi ini terus berkembang, bahkan merambah ke ranah digital.
“Saat ini kita melihat fenomena takbiran virtual, melalui siaran langsung. Ini membuktikan bahwa esensi takbiran tetap bertahan, meskipun bentuknya terus beradaptasi,” imbuhnya.
Di Indonesia, takbiran bukan sekadar ritual ibadah, melainkan warisan budaya Islam yang kaya dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Sejarah Takbiran Nusantara
Pakar budaya Islam Fakultas Ilmu Budaya Univeristas Airlangga (Unair) Ahmad Syauqi S Hum MSi mengungkap sejarah tradisi takbiran di Nusantara sudah ada sejak masa kesultanan Islam. Tepatnya abad 15-18 M tradisi takbiran identik dengan tradisi keagamaan Islam.
Era kedua yaitu kolonial, sekitar abad 19-20 M pada zaman belanda dilaksanakan dengan kondisi yang terbatas. “Takbiran juga seringkali menjadi bentuk perlawanan simbolis era penjajahan,” terangnya.
Hingga kini takbiran identik dengan tabuhan bedug yang menggema. Namun, seiring waktu, tradisi ini terus berkembang, bahkan merambah ke ranah digital.
“Saat ini kita melihat fenomena takbiran virtual, melalui siaran langsung. Ini membuktikan bahwa esensi takbiran tetap bertahan, meskipun bentuknya terus beradaptasi,” imbuhnya.