Geram atas Penghancuran Masjid Xinjiang, Muslim AS Boikot Hilton
Fajar adhitya
Senin, 27 September 2021 - 16:05 WIB
Sebuah masjid di kawasan Kasghar, Xinjiang yang dihancurkan oleh China Foto: Bahram Sintash
Muslim Amerika terdiri dari koalisi lebih 40 kelompok meluncurkan gerakan boikot global Hotel Hilton atas keterlibatannya dalam proyek hotel di Xinjiang, China.
Dalam proyek tersebut sebuah masjid Uighur sekira awal bulan ini dibuldoser untuk membangun hotel.
Pada konferensi pers 16 September lalu, perwakilan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Kongres Uighur Dunia, Proyek Hak Asasi Manusia Uighur dan organisasi lainnya berkumpul di luar Capital Hilton di Washington, AS.
Mereka mengecam Hilton dan menyatakan jaringan hotel itu telah mengabaikan tenggat waktu satu pekan yang telah diberikan CAIR untuk menarik diri dari proyek di Xinjiang.
“Mereka memutuskan meletakkan profit di atas hak asasi dan nilai-nilai,” kata Direktur Eksekutif CAIR, Nihad Awad, dilansir Religion News, Jumat (24/9) akhir pekan lalu.
Amerika Serikat dan sejumlah pemerintah lain di seluruh dunia telah melabeli perlakuan China terhadap Uighur sebagai genosida.
Uighur adalah kelompok etnis mayoritas Muslim yang juga penduduk asli Xinjiang.
Dalam proyek tersebut sebuah masjid Uighur sekira awal bulan ini dibuldoser untuk membangun hotel.
Pada konferensi pers 16 September lalu, perwakilan Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Kongres Uighur Dunia, Proyek Hak Asasi Manusia Uighur dan organisasi lainnya berkumpul di luar Capital Hilton di Washington, AS.
Mereka mengecam Hilton dan menyatakan jaringan hotel itu telah mengabaikan tenggat waktu satu pekan yang telah diberikan CAIR untuk menarik diri dari proyek di Xinjiang.
“Mereka memutuskan meletakkan profit di atas hak asasi dan nilai-nilai,” kata Direktur Eksekutif CAIR, Nihad Awad, dilansir Religion News, Jumat (24/9) akhir pekan lalu.
Amerika Serikat dan sejumlah pemerintah lain di seluruh dunia telah melabeli perlakuan China terhadap Uighur sebagai genosida.
Uighur adalah kelompok etnis mayoritas Muslim yang juga penduduk asli Xinjiang.