Cina Kenakan Tarif Tinggi untuk Produk AS, Ahli Ekonomi Internasional: Bumerang bagi Amerika
Tim langit 7
Kamis, 10 April 2025 - 15:00 WIB
Presiden AS, Donald Trump
Pemerintah Tiongkok resmi menetapkan tarif impor 34 persen untuk sejumlah produk asal Amerika Serikat. Hal ini sebagai respons atas kebijakan proteksionisme yang terus digaungkan mantan Presiden AS, Donald Trump.
Pakar Ekonomi Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD menyebut langkah Cina tersebut sebagai respons reaktif sekaligus strategis dalam jangka panjang.
“Amerika selama ini defisit neraca perdagangan, terutama terhadap Cina. Bahkan sebelum Covid-19, defisitnya bisa lebih dari 1 triliun USD. Ketika merasa perdagangan tidak adil, Amerika menetapkan tarif tinggi, lalu dibalas oleh Cina. Padahal, justru Amerika sendiri yang berpotensi dirugikan dari kebijakan ini,” ujarnya.
Rossanto menekankan, kebijakan saling balas tarif ini bisa berdampak serius terhadap supply chain global. Dengan banyaknya produk yang melewati beberapa negara dalam proses produksinya, tarif tinggi akan mendorong lonjakan harga barang secara drastis.
Baca juga:Trump Naikkan Tarif Impor hingga 32%, Pakar Internasional Sebut Potensi Ancaman Ekonomi
"Ambil contoh laptop. Komponennya diproduksi di Cina, prosesornya dari Amerika, lalu dirakit di Taiwan. Jika semua saling mengenakan tarif tinggi, harga akhir produk bisa melonjak hingga 100 persen," jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini bisa mendorong penyusutan perdagangan global hingga 50 persen jika terus berlanjut, mirip dengan peristiwa Great Depression tahun 1930-an.
Pakar Ekonomi Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD menyebut langkah Cina tersebut sebagai respons reaktif sekaligus strategis dalam jangka panjang.
“Amerika selama ini defisit neraca perdagangan, terutama terhadap Cina. Bahkan sebelum Covid-19, defisitnya bisa lebih dari 1 triliun USD. Ketika merasa perdagangan tidak adil, Amerika menetapkan tarif tinggi, lalu dibalas oleh Cina. Padahal, justru Amerika sendiri yang berpotensi dirugikan dari kebijakan ini,” ujarnya.
Rossanto menekankan, kebijakan saling balas tarif ini bisa berdampak serius terhadap supply chain global. Dengan banyaknya produk yang melewati beberapa negara dalam proses produksinya, tarif tinggi akan mendorong lonjakan harga barang secara drastis.
Baca juga:Trump Naikkan Tarif Impor hingga 32%, Pakar Internasional Sebut Potensi Ancaman Ekonomi
"Ambil contoh laptop. Komponennya diproduksi di Cina, prosesornya dari Amerika, lalu dirakit di Taiwan. Jika semua saling mengenakan tarif tinggi, harga akhir produk bisa melonjak hingga 100 persen," jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini bisa mendorong penyusutan perdagangan global hingga 50 persen jika terus berlanjut, mirip dengan peristiwa Great Depression tahun 1930-an.