Kisah Sufi: si Pengembara, si Aneh, dan si Hemat Waktu
Miftah yusufpati
Sabtu, 12 April 2025 - 04:31 WIB
Terdapat dalam suatu naskah darwis yang disebut Kitab-i-Amu Daria (Kitab Sungai Oxus), sebuah sumber yang memasukkan kisah ini sebagai salah satu kisah ajaran Uwais Al-Qarni. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Kisah ini dinukil dari buku berjudul "Tales of The Dervishes" karyaIdries Shahyang diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".
Tiga orang darwis bertemu di sebuah jalan sepi. Yang pertama disebut si Pengembara, sebab ia selalu menempuh jalan terjauh ketika mengadakan perjalanan, berdasarkan rasa hormatnya kepada tradisi. Yang kedua dikenal sebagai si Aneh, sebab tak ada sesuatu yang tampak aneh baginya, meskipun hampir semua perhatian dan perbuatannya terasa aneh bagi orang lain. Yang ketiga bernama si Hemat Waktu, sebab selalu saja ia pikir bisa menghemat waktu, meskipun cara yang digunakannya sering paling boros waktu dibandingkan lainnya.
Ketiga darwis itu pun menjadi teman seperjalanan. Namun, mereka berpisah karena tak lama kemudian, Si Pengembara melihat suatu penunjuk arah yang pernah didengamya, lalu ia pun bersikeras melalui jalan yang ditunjukkan tanda itu. Jalan itu sampai ke sebuah reruntuhan kota yang dihuni oleh singa-singa, sebab kota besar megah yang diketahuinya itu, telah musnah ratusan tahun lampau. Si Pengembara pun dimakan oleh singa-singa itu, hampir dalam sekali telan. Beberapa hari kemudian, Si Hemat Waktu pun memutuskan mencari sebuah jalan tersingkat, tetapi ia terjatuh ke dalam sebidang pasir hanyut ketika mencoba memotong jalan lewat pedalaman. Pasir hanyut itu bukanlah jenis yang berbahaya, namun butuh beberapa bulan untuk bisa keluar dari sana.
Si Aneh pun berangkat seorang diri. Tak berapa lama, ia bertemu seorang lelaki yang berkata, "Darwis, jalan di depan terhalang, sebab ada sebuah losmen yang pada malam hari didiami banyak binatang buas dari hutan."
Baca juga: Kisah Sufi Imam Al-Ghazali: Orang yang Mencapai
"Apa yang binatang itu lakukan pada siang harinya!" tanya Si Aneh.
"Sepertinya mereka berburu," kata orang itu.
Tiga orang darwis bertemu di sebuah jalan sepi. Yang pertama disebut si Pengembara, sebab ia selalu menempuh jalan terjauh ketika mengadakan perjalanan, berdasarkan rasa hormatnya kepada tradisi. Yang kedua dikenal sebagai si Aneh, sebab tak ada sesuatu yang tampak aneh baginya, meskipun hampir semua perhatian dan perbuatannya terasa aneh bagi orang lain. Yang ketiga bernama si Hemat Waktu, sebab selalu saja ia pikir bisa menghemat waktu, meskipun cara yang digunakannya sering paling boros waktu dibandingkan lainnya.
Ketiga darwis itu pun menjadi teman seperjalanan. Namun, mereka berpisah karena tak lama kemudian, Si Pengembara melihat suatu penunjuk arah yang pernah didengamya, lalu ia pun bersikeras melalui jalan yang ditunjukkan tanda itu. Jalan itu sampai ke sebuah reruntuhan kota yang dihuni oleh singa-singa, sebab kota besar megah yang diketahuinya itu, telah musnah ratusan tahun lampau. Si Pengembara pun dimakan oleh singa-singa itu, hampir dalam sekali telan. Beberapa hari kemudian, Si Hemat Waktu pun memutuskan mencari sebuah jalan tersingkat, tetapi ia terjatuh ke dalam sebidang pasir hanyut ketika mencoba memotong jalan lewat pedalaman. Pasir hanyut itu bukanlah jenis yang berbahaya, namun butuh beberapa bulan untuk bisa keluar dari sana.
Si Aneh pun berangkat seorang diri. Tak berapa lama, ia bertemu seorang lelaki yang berkata, "Darwis, jalan di depan terhalang, sebab ada sebuah losmen yang pada malam hari didiami banyak binatang buas dari hutan."
Baca juga: Kisah Sufi Imam Al-Ghazali: Orang yang Mencapai
"Apa yang binatang itu lakukan pada siang harinya!" tanya Si Aneh.
"Sepertinya mereka berburu," kata orang itu.