home edukasi & pesantren

Takdir: Doa Politis Mu'awiyah bin Abi Sufyan dalam Melegitimasi Kekuasaannya

Ahad, 20 April 2025 - 05:51 WIB
Mereka sepenuhnya yakin tentang takdir Allah yang menyentuh semua makhluk termasuk manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ketika Mu'awiyah ibn Abi Sufyan menggantikan Khalifah IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah ibn Syu'bah menanyakan, "Apakah doa yang dibaca Nabi setiap selesai salat?"

Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah: "Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari).



Doa ini dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun.

Kebijakan mempopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah.

Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya