Kisah lahirnya armada laut pertama dalam sejarah Islam bukan sekadar catatan militer. Ia adalah momentum perubahan strategi, politik, dan imajinasi bangsa Arab ketika kekuasaan maritim Rumawi mulai runtuh.
Ketika kekuasaan Islam melebar ke pesisir Afrika, ancaman dari laut kian nyata. Di tengah warisan kebijakan Umar dan desakan Muawiyah, Utsman bin Affan mengambil keputusan strategis yang mengubah sejarah maritim Islam.
Muawiyah tak hanya mewarisi kekuasaan, tapi juga mengukir tafsir atas takdir. Doa Nabi yang ia sebarkan menjadi dasar narasi: bahwa segala yang terjadi, termasuk kekuasaan dan penindasan, semata-mata kehendak Tuhan.
Di Madinah, Muawiyah dulu berjalan mengikuti bayangan unta. Di Damaskus, Wail duduk di singgasana Muawiyah. Dua jalan yang terhubung oleh iman, oleh takwa, oleh akhlak Rasulullah yang mereka pelajari perlahan-lahan.
Pengasingan Abu Dzar Al-Ghifari ke Rabzah bukan sekadar kisah klasik perseteruan politik dan moralitas. Ia adalah pertarungan sunyi antara kekuasaan dan suara kebenaran yang tak pernah berhenti menggema.
Kebijakan memopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai bertujuan politis, karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah.
Nyala sengketa politik antara Muawiyah dengan Ali bin Abi Thalib tak pernah padam. Meski begitu, Muawiyah yang akhirnya menjadi pemenang dalam sengketa itu tak bisa menahan air matanya ketika mendengar puja puji tentang kebaikan Ali bin Abi Thalib.
Pakar sejarah nusantara, Ustaz Dr Tiar Anwar Bachtiar mengatakan, sejarah masuknya Islam di Maroko bersaman dengan perluasan kekuasaan yang dilakukan Bani Umayyah sejak zaman Muawiyah bin Abu Sufyan pada 650-an M.