LANGIT7.ID- Di sebuah teluk kecil di Syam pada pertengahan abad ketujuh, deretan kapal kayu mulai tampak sibuk. Suara palu menempa lunas, tiang layar ditegakkan, dan sukarelawan berdatangan dari desa-desa pesisir. Pemandangan itu nyaris tak terbayangkan satu dekade sebelumnya, ketika bangsa Arab dikenal hanya sebagai penunggang kuda dan penguasa gurun.
Kini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sebuah armada laut dibangun secara sistematis. Dan semua bermula dari satu keputusan politik di Damaskus, lalu disahkan di Madinah.
Sumber utama historiografi mengenai fase ini dapat ditemukan pada karya Muhammad Husain Haekal,
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan (diterjemahkan Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa). Di sana ia mencatat bagaimana surat Khalifah Usman kepada Gubernur Syam, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, menjadi titikan sejarah: umat Islam harus memasuki arena laut.
Menurut Haekal, bangsa Arab sebelum masa Utsman hampir tak mengenal perang laut. Dunia mereka adalah padang pasir dan karavan. Laut adalah ruang asing, tempat bangsa Rumawi dan Byzantium bertarung memperebutkan dominasi.
Mu'awiyah melihat ancaman itu dengan mata seorang administrator yang pragmatis. Kedaulatan Islam telah membentang dari Hijaz ke Mesir dan Syam. Batas-batas kekuasaan itu kini menyentuh garis pantai Laut Tengah dan Laut Merah. Tanpa armada, wilayah ini terbuka bagi invasi Rumawi. Dan Rumawi, tulis Haekal, hanya punya satu cara untuk merebut kembali Mesir: datang melalui laut.
Utsman menyetujui pendirian armada, dengan satu syarat: perang laut dilakukan oleh sukarelawan. Ia memahami sensitivitas bangsa Arab terhadap bahaya laut dan konflik internal yang mungkin muncul dari wajib perang.
Ternyata, sukarelawan datang jauh lebih banyak dari perkiraan. Dalam waktu singkat, kata Haekal, armada Islam telah berdiri sejajar dengan armada Rumawi—sebuah kejutan bagi kekuatan maritim terbesar di kawasan itu.
Dua Poros: Syam dan MesirPembentukan armada berlangsung simultan di dua pusat kekuasaan. Mu'awiyah menyiapkan kapal-kapalnya di pelabuhan Syam, sementara di Mesir, Abdullah bin Sa'd bin Abi Sarh mempersiapkan armada dari Iskandariah.
Kesimpulannya jelas: Islam tidak lagi hanya berperang di darat. Ia telah memasuki arena geopolitik Laut Tengah.
Armada yang lahir dari tangan para sukarelawan itu segera menjadi alat strategis bagi ekspansi dan pengamanan wilayah. Dalam beberapa tahun saja, tulis Haekal, armada ini menjadi raja lautan yang disegani—setara dengan pasukan Arab yang sebelumnya memecahkan mitos tak terkalahkannya pasukan Rumawi di darat.
Pulau pertama yang menjadi sasaran adalah Siprus. Lokasinya strategis: persis di jantung jalur pelayaran Laut Tengah bagian timur. Gunung-gunungnya menjulang lebih dari 3.000 meter, tanahnya subur, buah-buahannya terkenal, udaranya sejuk.
Selama berabad-abad, Siprus menjadi rebutan kekaisaran besar. Bagi Rumawi, ia adalah pangkalan vital. Bagi Muslimin, ia adalah batu loncatan.
Serangan ke Siprus mengirim pesan penting ke Rumawi: Islam kini hadir di laut. Armada bukan sekadar tambahan kekuatan militer, tetapi simbol transformasi negara yang sebelumnya berporos pada gurun.
Jika Umar Masih Panjang UmurHaekal menyinggung satu spekulasi menarik: andai Umar bin Khattab hidup lebih lama dan menyaksikan luasnya wilayah pesisir yang dibebaskan, mungkin ia pun akan mempertimbangkan perang laut. Namun keputusan itu akhirnya jatuh pada Utsman—sebuah kebijakan yang memperlihatkan perubahan orientasi negara dari penaklukan darat ke konstelasi geopolitik maritim.
Lahirnya armada ini menandai babak baru dalam sejarah Islam. Untuk pertama kalinya, umat bukan hanya penunggang kuda dan unta, tetapi juga pelaut. Kapal-kapal itu membawa dua misi: perluasan wilayah dan pengamanan peradaban yang masih muda.
Dari pelabuhan Syam hingga dermaga Iskandariah, dari selat Siprus hingga pesisir laut Merah, armada itu membuka cakrawala baru tentang bentuk kekuasaan Islam di abad-abad berikutnya.
Ini bukan sekadar kisah kapal dan perang. Ia adalah kisah perubahan identitas sebuah bangsa—dari gurun yang sunyi ke lautan yang bergelora.
(mif)