Qatar Frustrasi! Negosiasi Damai Gaza Tak Ada Titik Terang
Nabil
Senin, 21 April 2025 - 06:05 WIB
Qatar Frustrasi! Negosiasi Damai Gaza Tak Ada Titik Terang
LANGIT7.ID-Jakarta;Kepala negosiator Qatar, Mohammed al-Khulaifi, menyatakan rasa frustrasinya atas lambatnya pembicaraan soal gencatan senjata di Gaza dalam wawancara dengan AFP. Hal ini ia ungkapkan satu bulan setelah Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Palestina, sementara putaran negosiasi terakhir kembali gagal mencapai kesepakatan.
“Kami jelas frustrasi dengan lambannya proses negosiasi ini. Ini masalah yang mendesak. Nyawa manusia dipertaruhkan jika operasi militer terus berlangsung setiap harinya,” kata al-Khulaifi, Jumat.
Qatar, bersama Amerika Serikat dan Mesir, sebelumnya menjadi penengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza. Kesepakatan itu mulai berlaku pada 19 Januari dan sempat menghentikan perang yang sudah berlangsung lebih dari setahun, sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Baca juga: Turki Lobi Hamas! Bantuan Kemanusiaan Gaza Jadi Prioritas
Fase pertama gencatan senjata berakhir di awal Maret, namun kedua pihak belum bisa menyepakati langkah selanjutnya. Hamas menuntut agar negosiasi masuk ke fase kedua, yaitu menuju penghentian perang secara permanen seperti yang tercantum dalam kerangka kesepakatan Januari. Israel, yang hanya ingin memperpanjang fase awal, kembali melancarkan serangan udara dan darat ke seluruh Jalur Gaza pada 18 Maret, setelah sebelumnya juga menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan.
Pada Kamis malam, Hamas menolak proposal terbaru Israel yang menawarkan gencatan senjata selama 45 hari. Israel mengajukan syarat pembebasan 10 sandera hidup yang masih ditahan Hamas, namun ditolak oleh kelompok tersebut.
“Kami telah bekerja tanpa henti selama beberapa hari terakhir untuk mencoba mempertemukan kedua pihak dan menghidupkan kembali kesepakatan yang sudah pernah disepakati sebelumnya,” ujar al-Khulaifi. “Dan kami tetap berkomitmen, walaupun proses ini penuh tantangan,” tambahnya.
“Kami jelas frustrasi dengan lambannya proses negosiasi ini. Ini masalah yang mendesak. Nyawa manusia dipertaruhkan jika operasi militer terus berlangsung setiap harinya,” kata al-Khulaifi, Jumat.
Qatar, bersama Amerika Serikat dan Mesir, sebelumnya menjadi penengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza. Kesepakatan itu mulai berlaku pada 19 Januari dan sempat menghentikan perang yang sudah berlangsung lebih dari setahun, sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Baca juga: Turki Lobi Hamas! Bantuan Kemanusiaan Gaza Jadi Prioritas
Fase pertama gencatan senjata berakhir di awal Maret, namun kedua pihak belum bisa menyepakati langkah selanjutnya. Hamas menuntut agar negosiasi masuk ke fase kedua, yaitu menuju penghentian perang secara permanen seperti yang tercantum dalam kerangka kesepakatan Januari. Israel, yang hanya ingin memperpanjang fase awal, kembali melancarkan serangan udara dan darat ke seluruh Jalur Gaza pada 18 Maret, setelah sebelumnya juga menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan.
Pada Kamis malam, Hamas menolak proposal terbaru Israel yang menawarkan gencatan senjata selama 45 hari. Israel mengajukan syarat pembebasan 10 sandera hidup yang masih ditahan Hamas, namun ditolak oleh kelompok tersebut.
“Kami telah bekerja tanpa henti selama beberapa hari terakhir untuk mencoba mempertemukan kedua pihak dan menghidupkan kembali kesepakatan yang sudah pernah disepakati sebelumnya,” ujar al-Khulaifi. “Dan kami tetap berkomitmen, walaupun proses ini penuh tantangan,” tambahnya.