MUI Serukan Optimisme Nasional Demi Masa Depan Indonesia yang Lebih Cerah
Tim langit 7
Jum'at, 25 April 2025 - 10:22 WIB
MUI Serukan Optimisme Nasional Demi Masa Depan Indonesia yang Lebih Cerah
LANGIT7.ID- Jakarta; Di tengah derasnya opini publik yang kerap pesimistis, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menggiring pada ketakutan dan pesimisme, seperti istilah "Indonesia Gelap" yang belakangan marak di media sosial.
Menurut Marsudi, menjaga keharmonisan sosial dimulai dari cara masyarakat membentuk persepsi dan narasi publik. Dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat, ia menegaskan bahwa menyebarkan semangat positif adalah bagian dari ajaran agama.
"Kita optimis membangun ke depan karena sesungguhnya perintah agama kita," katanya.
Marsudi menekankan bahwa narasi yang dibangun masyarakat akan mempengaruhi iklim kebangsaan. Oleh karena itu, ia mendorong agar publik berhati-hati dalam menyampaikan opini, terutama yang berpotensi menciptakan keresahan.
"Ciptakan optimisme, bukan dengan mengatakan 'Indonesia gelap', tetapi mari kita membuat kalimat-kalimat optimis. Keharmonisan dapat tercapai dan bisa terjaga, jika saling memahami keadaanya," ujarnya.
Bagi Marsudi, menyampaikan pendapat merupakan hal wajar dalam demokrasi, namun ia mengingatkan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik. Ia percaya selama masyarakat bersatu dan mengedepankan tujuan bersama, maka bangsa ini akan terus melaju ke arah yang lebih baik.
"Kritik itu sesungguhnya untuk membangun, bukan untuk kebencian, selama kita bersatu menuju satu tujuan maka saya yakin bisa mencapai targetnya," ucapnya.
Menurut Marsudi, menjaga keharmonisan sosial dimulai dari cara masyarakat membentuk persepsi dan narasi publik. Dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat, ia menegaskan bahwa menyebarkan semangat positif adalah bagian dari ajaran agama.
"Kita optimis membangun ke depan karena sesungguhnya perintah agama kita," katanya.
Marsudi menekankan bahwa narasi yang dibangun masyarakat akan mempengaruhi iklim kebangsaan. Oleh karena itu, ia mendorong agar publik berhati-hati dalam menyampaikan opini, terutama yang berpotensi menciptakan keresahan.
"Ciptakan optimisme, bukan dengan mengatakan 'Indonesia gelap', tetapi mari kita membuat kalimat-kalimat optimis. Keharmonisan dapat tercapai dan bisa terjaga, jika saling memahami keadaanya," ujarnya.
Bagi Marsudi, menyampaikan pendapat merupakan hal wajar dalam demokrasi, namun ia mengingatkan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik. Ia percaya selama masyarakat bersatu dan mengedepankan tujuan bersama, maka bangsa ini akan terus melaju ke arah yang lebih baik.
"Kritik itu sesungguhnya untuk membangun, bukan untuk kebencian, selama kita bersatu menuju satu tujuan maka saya yakin bisa mencapai targetnya," ucapnya.