Aset Keuangan Syariah Tembus Rp2.900 Triliun, Tapi Inklusinya Masih Jeblok
Tim langit 7
Ahad, 18 Mei 2025 - 16:28 WIB
Aset Keuangan Syariah Tembus Rp2.900 Triliun, Tapi Inklusinya Masih Jeblok
LANGIT7.ID–Jakarta;Meskipun indeks literasi dan inklusi keuangan nasional terus meningkat, tantangan besar masih membayangi sektor keuangan syariah di Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kesenjangan antara pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah dan akses riil mereka terhadap layanan tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi atau yang akrab disapa Kiki, mengungkapkan bahwa indeks literasi keuangan syariah memang mengalami kenaikan dari 39 persen menjadi 43,42 persen. Namun, inklusi keuangan syariah masih tertinggal jauh di angka 13,41 persen.
“Artinya banyak yang sudah paham produk keuangan syariah, tetapi belum mengaksesnya. Ini adalah PR (pekerjaan rumah) besar bagi kita semua,” tegas dia dalam keterangannya, dikutip Minggu (18/5/2025)..
Untuk mengatasi tantangan tersebut, OJK menaruh perhatian besar pada pendekatan berbasis komunitas. Kiki menyebut pentingnya melibatkan pondok pesantren serta tokoh agama dalam menyebarkan pemahaman keuangan syariah ke lapisan masyarakat yang lebih luas. Dalam praktiknya, OJK menggandeng Kementerian Agama untuk memberikan pelatihan kepada para dai dan ustaz sebagai agen literasi syariah.
Selain membentuk pusat inklusi keuangan syariah, strategi literasi juga diterapkan di tingkat lokal. Duta Literasi Sumsel, Ratu Tenny Leriva, menyampaikan bahwa wilayahnya menunjukkan capaian inklusi yang cukup tinggi. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2022, inklusi keuangan di Sumatra Selatan telah mencapai 88 persen, sedangkan tingkat literasinya berada di angka 52 persen, melampaui rata-rata nasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa “masih terdapat gap, terutama pada masyarakat di pinggiran kota dan desa, yang belum tersentuh layanan keuangan formal,” papar dia.
Di sisi lain, pertumbuhan aset keuangan syariah secara nasional memperlihatkan tren positif. Per Maret 2025, total aset industri ini mencapai Rp2.900 triliun. Rinciannya, pasar modal syariah mendominasi dengan Rp1.700 triliun, diikuti perbankan syariah sebesar Rp960 triliun, dan lembaga keuangan nonbank syariah Rp174,7 triliun.
Kiki menilai bahwa perkembangan ini perlu diiringi dengan peran aktif masyarakat. “Bonus demografi dan tingginya jumlah penduduk muslim Indonesia merupakan potensi besar yang tidak boleh hanya menjadi pasar, tapi harus mampu menjadikan kita sebagai pemain utama, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional,” ucap dia.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi atau yang akrab disapa Kiki, mengungkapkan bahwa indeks literasi keuangan syariah memang mengalami kenaikan dari 39 persen menjadi 43,42 persen. Namun, inklusi keuangan syariah masih tertinggal jauh di angka 13,41 persen.
“Artinya banyak yang sudah paham produk keuangan syariah, tetapi belum mengaksesnya. Ini adalah PR (pekerjaan rumah) besar bagi kita semua,” tegas dia dalam keterangannya, dikutip Minggu (18/5/2025)..
Untuk mengatasi tantangan tersebut, OJK menaruh perhatian besar pada pendekatan berbasis komunitas. Kiki menyebut pentingnya melibatkan pondok pesantren serta tokoh agama dalam menyebarkan pemahaman keuangan syariah ke lapisan masyarakat yang lebih luas. Dalam praktiknya, OJK menggandeng Kementerian Agama untuk memberikan pelatihan kepada para dai dan ustaz sebagai agen literasi syariah.
Selain membentuk pusat inklusi keuangan syariah, strategi literasi juga diterapkan di tingkat lokal. Duta Literasi Sumsel, Ratu Tenny Leriva, menyampaikan bahwa wilayahnya menunjukkan capaian inklusi yang cukup tinggi. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2022, inklusi keuangan di Sumatra Selatan telah mencapai 88 persen, sedangkan tingkat literasinya berada di angka 52 persen, melampaui rata-rata nasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa “masih terdapat gap, terutama pada masyarakat di pinggiran kota dan desa, yang belum tersentuh layanan keuangan formal,” papar dia.
Di sisi lain, pertumbuhan aset keuangan syariah secara nasional memperlihatkan tren positif. Per Maret 2025, total aset industri ini mencapai Rp2.900 triliun. Rinciannya, pasar modal syariah mendominasi dengan Rp1.700 triliun, diikuti perbankan syariah sebesar Rp960 triliun, dan lembaga keuangan nonbank syariah Rp174,7 triliun.
Kiki menilai bahwa perkembangan ini perlu diiringi dengan peran aktif masyarakat. “Bonus demografi dan tingginya jumlah penduduk muslim Indonesia merupakan potensi besar yang tidak boleh hanya menjadi pasar, tapi harus mampu menjadikan kita sebagai pemain utama, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional,” ucap dia.