home wirausaha syariah

IFESDC 2025 Tegaskan Peran Strategis Keuangan Syariah dalam Pembangunan Berkelanjutan Global

Jum'at, 23 Mei 2025 - 15:13 WIB
IFESDC 2025 Tegaskan Peran Strategis Keuangan Syariah dalam Pembangunan Berkelanjutan Global
LANGIT7.ID–Washington DC; Konferensi Ekonomi dan Keuangan Islam Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan (IFESDC) 2025 resmi dibuka hari ini di Kantor Pusat Bank Dunia, menegaskan urgensi penerapan keuangan syariah sebagai solusi nyata dalam memerangi kemiskinan dan mendorong kesejahteraan global.

Salah satu sorotan utama konferensi adalah pernyataan tegas dari Dr. Sutan Emir Hidayat, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS, yang menyampaikan bahwa pengembangan startup digital halal memerlukan ekosistem nasional yang menyeluruh. Dalam presentasinya bertajuk “Policy Approaches to Support Digital Halal Startups”, ia menekankan pentingnya dukungan regulasi, akses pasar, dan inkubasi yang sistematis.

Baca juga: Zakat dan Wakaf Jadi Fokus Utama Konferensi Internasional Keuangan Syariah di Washington DC

“Jika kita ingin keuangan syariah dan industri halal mendukung dampak pembangunan yang nyata, kita harus membangun ekosistem yang kondusif untuk startup—dari inkubasi dan kerangka regulasi hingga akses pasar,” ujar Dr. Sutan Emir, yang menegaskan komitmen Indonesia untuk menjadi pusat halal global, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (23/5/2025).

IFESDC 2025 menjadi forum strategis untuk memperkuat posisi ekonomi Islam dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Konferensi ini juga diramaikan dengan pidato kunci dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta berbagai sesi panel dari kalangan CEO, rektor, dan regulator.

Sebagai penutup konferensi dua hari ini, akan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antar lembaga serta penghargaan untuk makalah dan poster akademik terbaik. IFESDC 2025 diselenggarakan oleh Ikatan Muslim Indonesia di Amerika (IMAAM), bekerja sama dengan Universitas Tazkia dan Sakinah Finance, serta didukung oleh Direktur Eksekutif Southeast Asia Voting Group (EDS16) dari Grup Bank Dunia, dengan partisipasi lebih dari 200 peserta dari 11 negara.
(lam)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya