LANGIT7.ID–Washington DC; Peran strategis zakat dan wakaf dalam membangun sistem keuangan yang berkeadilan dan berkelanjutan menjadi sorotan utama dalam International Islamic Economics and Finance Conference for Sustainable Development (IFESDC) 2025 yang digelar selama dua hari di Markas Besar Bank Dunia, Washington DC, 21–22 Mei 2025.
Forum ini mempertegas bahwa instrumen keuangan sosial Islam seperti zakat dan wakaf bukan sekadar praktik ibadah, melainkan solusi nyata untuk mendukung agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat rentan.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, dalam pidato video yang ditayangkan pada sesi utama, menegaskan peran penting ekonomi syariah dalam kondisi global saat ini. “Dalam konteks ketidakpastian dan volatilitas saat ini, kekhawatiran utama bagi negara berpendapatan rendah dan menengah adalah sulitnya mencapai tujuan pembangunan. Oleh karena itu, gerakan ekonomi dan keuangan syariah harus menjadi bagian dari solusinya,” tegasnya, dikutip Jumat (23/5/2025).
Zakat dan wakaf disebut Sri Mulyani sebagai pilar penting dalam membangun skema pembiayaan yang inklusif dan etis, terutama untuk negara berkembang yang menghadapi tantangan kesenjangan dan akses pembiayaan terbatas.
Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, turut menyampaikan komitmen Indonesia dalam menjadikan instrumen keuangan syariah sebagai bagian dari arsitektur pembangunan nasional dan global. “Kami yakin integritas sistem halal Indonesia akan menjadi fondasi kepercayaan dalam perdagangan global. Kami siap memperkuat kolaborasi lintas batas agar halal menjadi bagian dari ekosistem pembangunan berkelanjutan," ujar dia.
Dalam sesi panel bertajuk Social Finance and Inclusive Development, para tokoh dunia memaparkan inovasi-inovasi dalam optimalisasi zakat dan wakaf. Hiba Ahmed, mantan Direktur Jenderal Islamic Solidarity Fund for Development (ISFD), membahas terobosan keuangan sosial Islam dalam konteks global. Razaq Manan Ahmad dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Indonesia menekankan pentingnya mikrofinans syariah sebagai solusi konkret bagi pemberdayaan masyarakat.
Makalah akademik hasil seleksi dari call for papers juga dipresentasikan pada hari pertama dan kedua konferensi, membahas topik zakat produktif, pengelolaan wakaf nasional, dan penguatan sinergi antara keuangan sosial Islam dan sektor publik. Penelitian-penelitian ini akan diterbitkan secara resmi pada akhir 2025 sebagai kontribusi akademik terhadap pengembangan ekonomi Islam global.
Pada penutupan konferensi, Haryadi, Sekretaris IFESDC 2025 yang juga penasihat Senior Direktur Eksekutif Southeast Asia Voting Group di Bank Dunia, membacakan resolusi resmi forum. “Konferensi ini menekankan pentingnya menyelaraskan keuangan syariah dengan tujuan pembangunan global melalui inklusi, investasi etis, dan pemberdayaan komunitas, khususnya di Asia Tenggara,” ujarnya.
Forum juga menyerukan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan dan pemuda dalam sektor keuangan syariah, serta menekankan pentingnya menjadikan zakat dan wakaf sebagai sistem yang terintegrasi dengan kebijakan nasional.
Ketua IFESDC 2025, Arif Mustofa, menutup konferensi dengan mengumumkan rencana pelaksanaan IFESDC 2026 di lokasi yang sama. “Dengan suksesnya IFESDC 2025, kami akan segera mempersiapkan IFESDC 2026 yang akan digelar di tempat yang sama musim semi mendatang,” katanya, sambil menyampaikan apresiasi kepada seluruh sponsor dan mitra, termasuk Bank Indonesia New York, Universitas Tazkia, dan Sakinah Finance.
Dengan pendekatan yang menggabungkan akademik, kebijakan, dan praktik keuangan Islam, IFESDC 2025 semakin mengokohkan posisi ekonomi syariah sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan berkelanjutan lintas negara.
(lam)