LANGIT7.ID-Lombok; Bank Indonesia (BI) memasang sasaran bisnis yang terukur dalam penyelenggaraan Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (Fesyar KTI) 2026. Melalui ajang tersebut, BI membidik omzet penjualan riil UMKM binaan mencapai Rp1,5 miliar sekaligus mendorong kesepakatan pembiayaan atau business matching senilai Rp11 miliar.
Target tersebut, menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, menjadi tolok ukur agar penyelenggaraan festival tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Seluruh pimpinan kantor perwakilan BI di kawasan timur telah dibekali target yang harus diwujudkan selama pelaksanaan acara.
"Setiap acara ini, mereka semua sudah diberikan target. Jadi bukan hanya sifatnya seremonial, tetapi harus ada target nyata. Harus ada business matching yang bisa terwujud dan target omzet penjualan Rp 1,5 miliar untuk 19 UMKM dengan berbagai macam produk di KTI. Ditambah lagi, kita ingin menciptakan business matching Rp 11 miliar," ujar Destry dalam sambutannya, dikutip Rabu (15/7/2026).
Fesyar KTI 2026 digelar di Lombok Epicentrum Mall, Nusa Tenggara Barat, pada 10-12 Juli 2026. Kegiatan tahunan tersebut melibatkan 19 Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang merepresentasikan 22 provinsi di wilayah Indonesia Timur.
Sebanyak 19 UMKM menghadirkan beragam produk unggulan daerah, mulai dari halal mart yang menawarkan makanan ringan dan oleh-oleh halal hingga kain tenun dengan motif khas dari berbagai wilayah.
Di antara peserta tersebut terdapat Beras Basah asal Bontang, Kalimantan Timur, yang menghadirkan produk fashion batik bercorak biota laut pesisir daerahnya. Ada pula Fatimah Collection dari Sulawesi Tengah yang menawarkan sepatu ecoprint dengan pewarna alami yang berasal dari dedaunan.
Dalam kesempatan itu, BI juga menyoroti posisi Indonesia dalam pengembangan ekonomi syariah dunia. Berdasarkan State of the Global Islamic Economic Report 2025-2026, Indonesia kini menempati peringkat keempat dunia dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah.
"Jadi secara keseluruhan, kita berada di peringkat nomor 4. Apakah kita puas? Kita bersyukur, Alhamdulillah kita sudah mencapai peringkat 4. Tetapi apakah cukup di situ? Belum. Kita harus terus berikhtiar karena peluangnya masih sangat besar," kata Destry.
Pada sektor-sektor tertentu, Indonesia menempati posisi pertama di industri Fashion Muslim, peringkat kedua pada Pariwisata Ramah Muslim (Halal Tourism), serta peringkat ketiga dalam kategori Makanan Halal.
Sementara itu, produk syariah di sektor halal value chain yang mencakup pertanian, makanan, dan minuman halal tumbuh 6,21 persen pada kuartal I 2026. Angka tersebut melampaui pertumbuhan PDB nasional yang berada di kisaran 5,6 persen.
Penyelenggaraan Fesyar KTI 2026 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Indonesia Sharia Economic and Finance Festival (ISEF) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada Oktober 2026.
(lam)