Haji: Mengeluarkan Manusia dari Kenikmatan dan Gemerlap Dunia
Miftah yusufpati
Selasa, 27 Mei 2025 - 04:45 WIB
Jika engkau melaksanakannya, maka bertahmidlah dan mintalah tambahan amal kepada Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam "Alhaju Waliastijabat llah" mengatakan sesungguhnya haji adalah bentuk ketaatan yang agung dan ibadah yang mulia.
"Di dalamnya terdapat realisasi penghambaan serta kesempurnaan ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Rabb ‘Azza wa Jalla," katanya.
Haji mengeluarkan manusia dari kenikmatan dan gemerlap dunia menuju kepada Rabb-nya. Ia meninggalkan harta, sanak keluarga, rumah, dan tanah airnya; melepaskan pakaian yang biasa dikenakan dan hanya mengenakan dua helai pakaian ihram tanpa penutup kepala, merendahkan diri kepada Rabb-nya.
Ia pun meninggalkan wewangian dan istrinya, serta melaksanakan berbagai amalan sunnah dalam manasik haji dengan hati yang khusyu’, mata yang berlinang air mata, dan lisan yang berdzikir, mengharap rahmat Rabb-nya dan takut akan adzab-Nya.
Syi’ar dari seluruh rangkaian ini adalah:
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ
Labbaik Allahumma labbaik
"Di dalamnya terdapat realisasi penghambaan serta kesempurnaan ketundukan dan kerendahan diri di hadapan Rabb ‘Azza wa Jalla," katanya.
Haji mengeluarkan manusia dari kenikmatan dan gemerlap dunia menuju kepada Rabb-nya. Ia meninggalkan harta, sanak keluarga, rumah, dan tanah airnya; melepaskan pakaian yang biasa dikenakan dan hanya mengenakan dua helai pakaian ihram tanpa penutup kepala, merendahkan diri kepada Rabb-nya.
Ia pun meninggalkan wewangian dan istrinya, serta melaksanakan berbagai amalan sunnah dalam manasik haji dengan hati yang khusyu’, mata yang berlinang air mata, dan lisan yang berdzikir, mengharap rahmat Rabb-nya dan takut akan adzab-Nya.
Syi’ar dari seluruh rangkaian ini adalah:
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ
Labbaik Allahumma labbaik