LANGIT7.ID-Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam "
Alhaju Waliastijabat llah" mengatakan sesungguhnya
haji adalah bentuk ketaatan yang agung dan ibadah yang mulia.
"Di dalamnya terdapat realisasi penghambaan serta kesempurnaan ketundukan dan kerendahan diri di hadapan
Rabb ‘Azza wa Jalla," katanya.
Haji mengeluarkan manusia dari kenikmatan dan gemerlap dunia menuju kepada Rabb-nya. Ia meninggalkan harta, sanak keluarga, rumah, dan tanah airnya; melepaskan pakaian yang biasa dikenakan dan hanya mengenakan dua helai pakaian ihram tanpa penutup kepala, merendahkan diri kepada Rabb-nya.
Ia pun meninggalkan wewangian dan istrinya, serta melaksanakan berbagai amalan sunnah dalam manasik haji dengan hati yang khusyu’, mata yang berlinang air mata, dan lisan yang berdzikir, mengharap rahmat Rabb-nya dan takut akan adzab-Nya.
Syi’ar dari seluruh rangkaian ini adalah:
لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَLabbaik Allahumma labbaikMaknanya: Sesungguhnya aku tunduk kepada-Mu wahai Rabb, aku memenuhi panggilan-Mu, menaati hukum-Mu, dan melaksanakan perintah-Mu.
Baca juga: Kasus MERS Meningkat, Jamaah Haji Diimbau Tingkatkan Protokol Kesehatan Talbiyah adalah syi’ar haji. Seorang muslim memulai amalan haji dengan bertalbiyah dan terus mengumandangkannya hingga tiba di Baitullah untuk melaksanakan thawaf.
Setelah itu, ia bertalbiyah setiap kali berpindah dari satu rukun ke rukun lain, dari satu manasik ke manasik berikutnya. Jika menuju Arafah, ia bertalbiyah; demikian pula ketika menuju Muzdalifah dan Mina hingga melempar jumrah ‘aqabah, barulah ia menghentikan talbiyah. Talbiyah adalah syi’ar yang disunnahkan dalam seluruh rangkaian manasik.
"Betapa besar pengaruh ibadah haji yang penuh keberkahan ini bagi kaum muslimin, dalam menyucikan dan memperbaiki jiwa, serta sebagai obat atas kekurangannya dalam menjalankan perintah dan menunaikan hak-hak Allah," ujar Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
Allah telah memerintahkan hamba-Nya untuk salat, zakat, puasa, shadaqah, menepati janji, amanah, berbuat baik, dan melarang dari perzinaan, pembunuhan, meminum khamr, berdusta, berbuat curang, dan khianat.
Bagaimanakah sikap seorang muslim terhadap perintah dan larangan ini? Apakah ia memenuhi perintah Allah dengan menaati-Nya, ataukah ia lebih memilih bergelut dalam kefasikan dan kemaksiatan?
Sesungguhnya hakikat Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, melaksanakan ketaatan kepada-Nya, dan berlepas diri dari kesyirikan serta para pelakunya. Allah Ta’ala berfirman:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ“
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 208]
Baca juga: Adab Haji dan Umrah: Berdoa Keluar Rumah dan Doa Safar Firman-Nya:
(ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ) = masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, maksudnya adalah melaksanakan seluruh syariat Allah dan taat terhadap perintah-Nya.
Sedangkan
(كَافَّةً) = secara keseluruhan, yaitu dalam segala hal. Mujahid berkata: “Yaitu laksanakan seluruh amalan dan jalan-jalan kebaikan.”
Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjalankan seluruh cabang iman dan syariat Islam, yang jumlahnya banyak. Karena itu, hendaknya mereka melakukannya semampu mereka, sebagaimana firman Allah:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” [QS. At-Taghabun: 16]
Dalam sebuah hadits Nabi:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ“Jika aku memerintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.”
Ayat-ayat dan hadits tentang pentingnya berserah diri, memenuhi panggilan Allah, dan taat kepada-Nya sangatlah banyak.
Wahai orang yang telah diperintahkan untuk berhaji lalu memenuhi panggilan-Nya, datang menuju Baitullah, mengharap rahmat dan takut adzab-Nya—bagaimana dengan perintah-perintah Allah yang lain? Bagaimana dengan shalat, yang merupakan tiang agama dan ibadah paling agung setelah syahadat? Bagaimana shalatmu? Bagaimana puasamu, zakatmu? Bagaimana usahamu menjauhi hal-hal yang dilarang?
Baca juga: Hilal Dzulhijjah 2025: Arab Saudi Minta Warga Pantau Bulan Jelang Idul Adha dan Haji Jika engkau melaksanakannya, maka bertahmidlah dan mintalah tambahan amal kepada Allah. Namun jika engkau lalai, maka hisablah dirimu sebelum engkau dihisab di hari kiamat. Karena hari ini adalah waktu untuk beramal, belum ada hisab; sedangkan esok adalah hari hisab dan tidak ada lagi amal.
Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي، إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amalan kalian, Aku hitung untuk kalian lalu Aku balas kalian atasnya. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri.”
Sesungguhnya manusia terhadap perintah dan larangan Allah terbagi menjadi beberapa keadaan:
1. Mereka yang mewajibkan diri untuk taat dan menahan diri dari maksiat—merekalah orang-orang bertakwa sejati.
2. Mereka yang tidak taat dan justru lebih memilih maksiat—keadaan paling buruk, yang layak mendapat dua adzab.
3. Mereka yang taat namun juga maksiat—mereka juga berhak mendapat adzab, karena kalah oleh syahwat.
4. Mereka yang menghalangi orang lain dari taat dan mencegah dari maksiat—mereka pun berhak atas adzab.
Seorang muslim wajib menasihati dan menjaga dirinya sendiri untuk senantiasa taat kepada Rabb-nya, sabar dalam menjalankan perintah-Nya, dan mengharap pahala dari-Nya.
Salah seorang salaf berkata: “Sesungguhnya kami telah meneliti dan kami dapati bahwa bersabar dalam menaati Allah itu lebih ringan daripada bersabar atas adzab-Nya.”
Yang lain berkata: “Bersabarlah wahai hamba Allah atas amal yang pahalanya tak mampu kalian bayangkan, dan bersabarlah meninggalkan maksiat yang adzabnya tak mampu kalian tanggung.”
Baca juga: Raja Salman Undang 1.000 Warga Palestina Menunaikan Haji Tahun Ini Secara Gratis Banyak orang sangat menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan jasmani, tetapi mereka lalai dari hal-hal yang membinasakan ruh dan mendatangkan murka Allah.
Ibnu Syubrumah berkata: “Aku heran terhadap orang yang menjaga makanannya karena takut penyakit, namun tidak menjaga diri dari dosa karena takut neraka.”
Hammad bin Zaid juga berkata: “Aku heran pada orang yang menjaga makanannya karena takut bahaya, tapi tidak menjaga diri dari dosa yang akibatnya jauh lebih berbahaya.”
(mif)