Kebesaran Manusia Sejati Terletak pada Kapasitasnya untuk Meraih Kemajuan
Miftah yusufpati
Selasa, 27 Mei 2025 - 17:30 WIB
Sesungguhnya manusia di dunia ini amat lemah dan hina. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Imam al-Ghazali mengatakan semua nafsu badani musnah pada saat kematian, bersamaan dengan kematian organ-organ yang biasa digunakan oleh nafsu-nafsu tersebut. Tetapi jiwa tidak. Ia menyimpan segala pengetahuan tentang Tuhan yang dimilikinya, bahkan menambahnya.
"Sebagian penting dari pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri, yang menampakkan kepada kita kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Sang Pencipta," tutur Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Dengan kekuasaan-Nya, Ia membangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa dari hanya setetes cairan. Kebijaksanaan-Nya terungkap dalam kerumitan jasad kita serta kemampuan bagian-bagiannya untuk saling menyesuaikan.
Ia memperlihatkan cinta-Nya dengan memberikan lebih dari sekadar organ-organ yang mutlak diperlukan bagi eksistensi—seperti hati, jantung, dan otak—tetapi juga organ-organ yang tidak mutlak perlu—seperti tangan, kaki, lidah, dan mata. Kepada semua ini Ia tambahkan hiasan: hitamnya rambut, merahnya bibir, dan melengkungnya bulu mata.
Baca juga: Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Manusia dengan tepat disebut sebagai *alamushshaghir* atau "jasad kecil" dalam dirinya. Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang-orang yang ingin menjadi dokter, tetapi juga oleh mereka yang ingin mencapai pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan.
Sebagaimana studi mendalam tentang keindahan dan corak bahasa dalam sebuah puisi agung akan mengungkapkan lebih banyak tentang kejeniusan pengarangnya, demikian pula halnya dengan studi tentang manusia.
"Sebagian penting dari pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri, yang menampakkan kepada kita kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Sang Pencipta," tutur Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Dengan kekuasaan-Nya, Ia membangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa dari hanya setetes cairan. Kebijaksanaan-Nya terungkap dalam kerumitan jasad kita serta kemampuan bagian-bagiannya untuk saling menyesuaikan.
Ia memperlihatkan cinta-Nya dengan memberikan lebih dari sekadar organ-organ yang mutlak diperlukan bagi eksistensi—seperti hati, jantung, dan otak—tetapi juga organ-organ yang tidak mutlak perlu—seperti tangan, kaki, lidah, dan mata. Kepada semua ini Ia tambahkan hiasan: hitamnya rambut, merahnya bibir, dan melengkungnya bulu mata.
Baca juga: Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Manusia dengan tepat disebut sebagai *alamushshaghir* atau "jasad kecil" dalam dirinya. Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang-orang yang ingin menjadi dokter, tetapi juga oleh mereka yang ingin mencapai pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan.
Sebagaimana studi mendalam tentang keindahan dan corak bahasa dalam sebuah puisi agung akan mengungkapkan lebih banyak tentang kejeniusan pengarangnya, demikian pula halnya dengan studi tentang manusia.