LANGIT7.ID-
Imam al-Ghazali mengatakan semua
nafsu badani musnah pada saat kematian, bersamaan dengan kematian organ-organ yang biasa digunakan oleh nafsu-nafsu tersebut. Tetapi jiwa tidak. Ia menyimpan segala pengetahuan tentang Tuhan yang dimilikinya, bahkan menambahnya.
"Sebagian penting dari pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri, yang menampakkan kepada kita kebijaksanaan, kekuasaan, serta cinta Sang Pencipta," tutur Imam al-Ghazali dalam bukunya berjudul "
The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "
Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Dengan kekuasaan-Nya, Ia membangun kerangka tubuh manusia yang luar biasa dari hanya setetes cairan. Kebijaksanaan-Nya terungkap dalam kerumitan jasad kita serta kemampuan bagian-bagiannya untuk saling menyesuaikan.
Ia memperlihatkan cinta-Nya dengan memberikan lebih dari sekadar organ-organ yang mutlak diperlukan bagi eksistensi—seperti hati, jantung, dan otak—tetapi juga organ-organ yang tidak mutlak perlu—seperti tangan, kaki, lidah, dan mata. Kepada semua ini Ia tambahkan hiasan: hitamnya rambut, merahnya bibir, dan melengkungnya bulu mata.
Baca juga: Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali Manusia dengan tepat disebut sebagai *alamushshaghir* atau "jasad kecil" dalam dirinya. Struktur jasadnya mesti dipelajari, bukan hanya oleh orang-orang yang ingin menjadi dokter, tetapi juga oleh mereka yang ingin mencapai pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan.
Sebagaimana studi mendalam tentang keindahan dan corak bahasa dalam sebuah puisi agung akan mengungkapkan lebih banyak tentang kejeniusan pengarangnya, demikian pula halnya dengan studi tentang manusia.
Di atas semua itu, pengetahuan tentang jiwa memainkan peranan yang lebih penting dalam membimbing ke arah pengetahuan tentang Tuhan ketimbang pengetahuan tentang jasad dan fungsi-fungsinya. Jasad dapat diperbandingkan dengan seekor kuda, sedangkan jiwa adalah penunggangnya.
Jasad diciptakan untuk jiwa dan jiwa untuk jasad. Jika seseorang tidak mengetahui jiwanya sendiri—yang merupakan sesuatu yang paling dekat dengannya—maka apa arti klaimnya bahwa ia mengetahui hal-hal lain? Dalam hal ini, ia bagaikan seorang pengemis yang tidak memiliki persediaan makanan, tetapi mengklaim mampu memberi makan seluruh penduduk kota.
Menurut Al-Ghazali, seseorang yang mengabaikannya dan menodai kapasitasnya dengan karat, atau merosotkannya, pasti menjadi pihak yang kalah di dunia ini maupun di akhirat.
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Tujuan Disiplin Moral Memurnikan Hati dari Karat Nafsu dan Amarah Kebesaran manusia yang sejati terletak pada kapasitasnya untuk terus-menerus meraih kemajuan. Jika tidak, di dalam ruang temporal ini, ia akan menjadi makhluk yang paling lemah di antara semuanya—takluk oleh kelaparan, kehausan, panas, dingin, dan penderitaan.
Sesuatu yang paling ia senangi sering kali justru merupakan hal yang paling berbahaya baginya. Dan sesuatu yang menguntungkan tidak bisa diperoleh kecuali dengan kesusahan dan kesulitan.
Mengenai inteleknya, kekacauan kecil saja dalam otaknya sudah cukup untuk memusnahkannya atau membuatnya gila. Mengenai kekuatannya, sengatan seekor tawon saja sudah bisa mengganggu rasa nyaman dan tidurnya. Mengenai tabiatnya, ia sudah akan gelisah hanya karena kehilangan satu rupiah. Dan mengenai kecantikannya, ia hanya sedikit lebih baik daripada benda-benda menjijikkan yang dibalut kulit halus. Jika tidak sering dicuci, tubuhnya akan menjadi sangat menjijikkan dan memalukan.
Sesungguhnya manusia di dunia ini amat lemah dan hina. Hanya di dalam kehidupan yang akan datanglah ia akan memperoleh nilai sejati, jika melalui "kimia kebahagiaan" itu ia meningkat dari tingkat hewan ke tingkat malaikat. Jika tidak, maka keadaannya akan lebih buruk dari orang-orang biadab yang pasti musnah dan menjadi debu. Ia perlu, bersamaan dengan kesadaran akan keunggulannya sebagai makhluk terbaik, untuk juga menyadari ketidakberdayaannya. Karena hal ini merupakan salah satu kunci menuju pengetahuan tentang Tuhan.
Baca juga: Imam Al-Ghazali: Mengenal Diri dengan Menyadari Memiliki Jasad dan Hati(mif)