home masjid

Catatan Haji: Ketika Kesalehan Tak Berakhir di Tanah Suci

Sabtu, 14 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dari jutaan jamaah haji yang pulang setiap tahun, hanya segelintir yang benar-benar kembali ke rumah dengan membawa haji yang hidup. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Makkah telah lama ditinggalkan. Ihram dilipat, koper dibongkar, dan bandara-bandara kembali padat seperti biasa. Tapi benarkah haji telah usai?

Di tanah air, wajah-wajah bercahaya itu menyambut peluk cium sanak keluarga. Kalung bunga, iringan rebana, dan spanduk bertuliskan “Selamat Datang Haji Mabrur” membanjiri gang-gang sempit hingga pelataran masjid. Tapi di balik euforia sambutan, pertanyaan sunyi menggema di dalam dada: bagaimana menjaga haji agar tetap hidup dalam keseharian?

Artikel itu bukan sekadar nasihat, melainkan teguran lembut tapi keras: jangan biarkan keshalihan berakhir di bandara. Jangan biarkan miqat spiritual berakhir di ruang tunggu terminal. “Sesungguhnya mengambil dari dunia sekadar batas kebutuhan tidak akan mempengaruhi keikhlasan,” demikian Div. Ilmiyah Dar Al Qasim dalam kitab Madha Baed Alhaj.

Kalimat itu menjadi tafsir kontemporer dari ayat Al-Baqarah 198 yang melegalkan perdagangan di musim haji. “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia dari Rabbmu,” begitu bunyinya. Tapi karunia itu tak hanya berupa dirham dan dinar. Ia bisa berupa keteguhan iman, dan istiqamah dalam ibadah.

Imam al-Qurthubi telah menyimpulkan sejak lama: “Berbisnis saat berhaji tidak merusak keikhlasan.” Tapi yang lebih sulit dari itu adalah berbisnis setelah haji tanpa mencemari hati yang pernah bersimpuh di Arafah.

Baca juga: 5 Cara Jaga Kemabruran Haji: Tingkatkan Kepedulian Sosial hingga Perkuat Keimanan

“Janganlah seseorang pergi sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah,” sabda Nabi dalam hadis riwayat Muslim. Dan itulah esensi thawaf wada’, meninggalkan Baitullah dengan air mata, bukan selfie. Tapi apakah thawaf perpisahan juga menjadi titik perpisahan dengan amal saleh?
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya