Kiamat Tak Lagi Rahasia: Ini Tanda-Tanda dari Langit dan Bumi
Miftah yusufpati
Ahad, 15 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dan bila memang benar kiamat datang esok hari, maka hari ini adalah waktu terbaik untuk berdiri tegak. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah sudut musala kampus, seorang mahasiswa bertanya dengan serius, “Ustaz, kapan kiamat datang?” Sang ustaz menghela napas, lalu menjawab dengan seloroh: “Begitu pasir di pantai Laut Merah habis dihitung.” Jawaban itu melegakan dan sekaligus membuat bingung. Tapi di balik guyonan itu, ada pesan yang tak bisa disepelekan: kiamat adalah misteri, namun jejak-jejaknya kian kasatmata.
Hari-hari ini, perbincangan tentang kiamat tak lagi hanya milik mimbar masjid atau kitab tafsir. Ia merembes ke serial Netflix, poster iklan film Hollywood, hingga obrolan WhatsApp grup alumni.
Sering kali, ia datang bukan dalam bentuk pertanyaan teologis, melainkan keluhan sosial: mengapa makin sulit membedakan mana orang baik dan mana yang pandai bersandiwara? Mengapa kesalehan tampak minor, dan kekacauan justru dianggap normal?
Dalam Islam, kiamat bukan sekadar kehancuran total, tetapi hari kebangkitan. Istilah "kiamat" berasal dari akar kata qama-yaqumu, yang berarti "bangkit berdiri." Ia adalah momen ketika semua manusia dihimpun untuk mempertanggungjawabkan hidup mereka. Namun sebelum itu, akan ada tanda-tanda. Dan sebagian di antaranya kini sedang mampir di depan pintu.
Baca juga: Kiamat yang Tak Melulu Menakutkan: Tafsir Spiritual yang Menghibur dan Menenangkan
Tanda-Tanda dari Langit dan Bumi
Hadis-hadis Nabi Muhammad menyebut dua jenis tanda: tanda sosial dan tanda alam. Dalam kategori pertama, peradaban tampak kehilangan urat malu.
Hari-hari ini, perbincangan tentang kiamat tak lagi hanya milik mimbar masjid atau kitab tafsir. Ia merembes ke serial Netflix, poster iklan film Hollywood, hingga obrolan WhatsApp grup alumni.
Sering kali, ia datang bukan dalam bentuk pertanyaan teologis, melainkan keluhan sosial: mengapa makin sulit membedakan mana orang baik dan mana yang pandai bersandiwara? Mengapa kesalehan tampak minor, dan kekacauan justru dianggap normal?
Dalam Islam, kiamat bukan sekadar kehancuran total, tetapi hari kebangkitan. Istilah "kiamat" berasal dari akar kata qama-yaqumu, yang berarti "bangkit berdiri." Ia adalah momen ketika semua manusia dihimpun untuk mempertanggungjawabkan hidup mereka. Namun sebelum itu, akan ada tanda-tanda. Dan sebagian di antaranya kini sedang mampir di depan pintu.
Baca juga: Kiamat yang Tak Melulu Menakutkan: Tafsir Spiritual yang Menghibur dan Menenangkan
Tanda-Tanda dari Langit dan Bumi
Hadis-hadis Nabi Muhammad menyebut dua jenis tanda: tanda sosial dan tanda alam. Dalam kategori pertama, peradaban tampak kehilangan urat malu.