home masjid

Tali Cinta Sang Pencipta: Tafsir Al-Ghazali atas Penyakit, Ilmu, dan Iman

Senin, 16 Juni 2025 - 16:00 WIB
Penyakit, dalam pandangan ini, bukan sekadar persoalan ketidakseimbangan unsur tubuh. Ilustarsi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, ketika penyakit dikalkulasi secara kimiawi dan depresi dipetakan oleh peta-peta hormon, ada suara sunyi yang datang dari abad ke-11. Suara itu adalah suara Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Ia mengingatkan kita akan satu hal yang kini mulai dilupakan: bahwa ada cinta di balik derita, ada kehendak Ilahi di balik tiap gejala.

Dalam penggalan emas dari karyanya "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan oleh Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan", al-Ghazali mengajak kita mengurai kesalahan para pengamat dunia: para ilmuwan, tabib, bahkan para pemuja astrologi.

Mereka memang melihat, namun tak mengenali. Seperti para buta yang meraba seekor gajah—satu menyentuh kaki, satu menyentuh gading, dan yang lain memegang telinga. Masing-masing menyimpulkan keseluruhan dari sepotong kenyataan. Begitulah, menurut al-Ghazali, orang-orang yang hanya mengandalkan fakultas perseptif lahiriah mereka dalam memahami dunia.

Penyakit, dalam pandangan ini, bukan sekadar persoalan ketidakseimbangan unsur tubuh. Ia bisa menjadi surat cinta dari Tuhan, tali gaib yang menarik sang hamba kembali ke jalan-Nya. Dokter boleh meresepkan obat, astrolog boleh menuduh konstelasi langit, tapi yang tidak mereka lihat adalah hikmah di balik semua itu: “Bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurus kesejahteraan orang itu.”

Baca juga: Cermin Diri, Cermin Tuhan: Renungan Sufi dari Kimia Kebahagiaan Imam Al-Ghazali

Ilmu, Iman, dan Kebutaan Spiritual

Namun al-Ghazali tak hendak merendahkan ilmu. Ia memuliakan tiap cabangnya. Yang ia kritik adalah ketika hukum-hukum fisika dianggap sebagai hukum akhir dari semesta, seolah tidak ada Sang Penetap hukum di atasnya. Ketika ilmu melupakan bahwa ia hanyalah tanda, bukan tujuan. Maka, ilmu yang tercerabut dari wahyu hanyalah rangka yang kehilangan roh.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya