Kitab yang Hilang, Kisah yang Hidup: Jejak Yahudi dan Kristen dalam Sejarah Nabi-Nabi Islam
Miftah yusufpati
Rabu, 18 Juni 2025 - 16:30 WIB
Bagaimana umat Islam awal mengisi kekosongan sejarah profetik dengan cerita para pendongeng dan kisah Biblikal. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada suatu masa, ketika komunitas Muslim awal di Hijaz masih bertanya-tanya tentang asal-usul dunia dan silsilah para nabi, lahirlah sekelompok pencerita yang bukan sekadar tukang kisah. Mereka adalah para qushash—pengisah populer di mimbar-mimbar masjid yang mengisi celah antara wahyu dan sejarah. Kisah-kisah mereka memikat, menegangkan, kadang hiperbolik, tapi yang lebih penting: mereka membangun semacam narasi sejarah kenabian yang tak sempat dijelaskan Al-Qur’an secara kronologis.
William Montgomery Watt, orientalis terkemuka dari Inggris, menyebut fenomena ini sebagai bentuk respons umat Islam awal terhadap kekaburan sejarah masa pra-Islam.
Dalam Titik Temu Islam dan Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi(Penerbit Gaya Media Pratama, 1996), Watt menggarisbawahi bahwa masyarakat Arab sebelum Islam tidak memiliki kesadaran sejarah yang utuh. Mereka mengenal nama-nama nabi seperti Nuh, Ibrahim, dan Musa, namun tidak memahami kesinambungan historis di antara mereka.
"Al-Qur’an memberikan kesan bahwa masyarakat-masyarakat yang diberi risalah oleh para nabi itu terpisah satu sama lain dan tidak memiliki kontinuitas sejarah yang jelas," tulis Watt.
Baca juga: Membaca Kristen dari Madinah Menurut Montgomery Watt
Namun kekosongan itu tak bertahan lama. Para qushash mulai merangkai benang merah sejarah profetik, kadang dengan bantuan sumber-sumber Yahudi dan Kristen, terutama dari kelompok Yahudi yang memeluk Islam. Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam penyebaran kisah-kisah para nabi adalah Ka’ab al-Ahbar, mantan rabi Yahudi dari Yaman yang wafat pada 638 M, dan Wahb ibn Munabbih, yang disebut-sebut membaca lebih dari tujuh puluh kitab kuno.
Melalui tangan-tangan mereka, lahirlah sebuah tradisi Isra’iliyyat—cerita-cerita dari kitab-kitab sebelumnya yang diserap ke dalam imajinasi Islam. Wahb ibn Munabbih bahkan menulis kitab monumental al-Mubtada', yang kelak menjadi fondasi penting bagi penulisan Sirah Nabi Muhammad oleh Ibn Ishaq.
William Montgomery Watt, orientalis terkemuka dari Inggris, menyebut fenomena ini sebagai bentuk respons umat Islam awal terhadap kekaburan sejarah masa pra-Islam.
Dalam Titik Temu Islam dan Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi(Penerbit Gaya Media Pratama, 1996), Watt menggarisbawahi bahwa masyarakat Arab sebelum Islam tidak memiliki kesadaran sejarah yang utuh. Mereka mengenal nama-nama nabi seperti Nuh, Ibrahim, dan Musa, namun tidak memahami kesinambungan historis di antara mereka.
"Al-Qur’an memberikan kesan bahwa masyarakat-masyarakat yang diberi risalah oleh para nabi itu terpisah satu sama lain dan tidak memiliki kontinuitas sejarah yang jelas," tulis Watt.
Baca juga: Membaca Kristen dari Madinah Menurut Montgomery Watt
Namun kekosongan itu tak bertahan lama. Para qushash mulai merangkai benang merah sejarah profetik, kadang dengan bantuan sumber-sumber Yahudi dan Kristen, terutama dari kelompok Yahudi yang memeluk Islam. Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam penyebaran kisah-kisah para nabi adalah Ka’ab al-Ahbar, mantan rabi Yahudi dari Yaman yang wafat pada 638 M, dan Wahb ibn Munabbih, yang disebut-sebut membaca lebih dari tujuh puluh kitab kuno.
Melalui tangan-tangan mereka, lahirlah sebuah tradisi Isra’iliyyat—cerita-cerita dari kitab-kitab sebelumnya yang diserap ke dalam imajinasi Islam. Wahb ibn Munabbih bahkan menulis kitab monumental al-Mubtada', yang kelak menjadi fondasi penting bagi penulisan Sirah Nabi Muhammad oleh Ibn Ishaq.