home masjid

Waktu yang Dirahasiakan: Mengapa Jumat Tak Pernah Biasa

Jum'at, 20 Juni 2025 - 05:15 WIB
Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, saat pekan diburu algoritma, hari Jumat hadir seperti pusaran yang tenang. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam kalender Islam, ada satu hari yang tak pernah kehilangan makna. Ia datang saban pekan, tapi nilainya tak pernah biasa. Hari Jumat, hari yang Rasulullah ﷺ sebut sebagai penghulu segala hari, hari ketika langit pernah dibuka untuk manusia pertama, dan hari ketika bumi kelak akan digulung untuk kiamat.

Bagi umat Islam, Jumat bukan sekadar pengganti akhir pekan dalam ritme kerja modern. Ia adalah hari raya yang datang tujuh hari sekali. Berbalut khutbah, salat berjamaah, dan waktu-waktu langit yang menyingkap rahasia ijabah.

“Sesungguhnya hari Jumat adalah hari terbaik. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, dan pada hari itu pula kiamat akan terjadi,” sabda Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (no. 854) dari Abu Hurairah.

Tak heran bila sebagian ulama menempatkan Jumat di atas dua hari raya besar lainnya. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Majmu’ Fatawa, bahkan mengutip riwayat bahwa hari Jumat lebih agung daripada Idul Fitri dan Idul Adha. Satu waktu dalam sehari, satu pintu langit dibuka. Di sana, doa seorang hamba bisa menembus langit ketujuh—selama ia tidak meminta sesuatu yang haram.

Baca juga: Kisah Humor Sufi: Ketika Nasrudin Hoja Berteriak Api! Api! di Mimbar Jumat

Di antara umat Islam, narasi agung ini tak berhenti jadi retorika. Ia hidup dalam rutinitas. Dari pasar ke masjid, dari terminal ke mushola, dari penjuru kota hingga desa. Banyak yang tidak salat lima waktu, tetapi Jumat tetap dijaga. Ada semacam takzim kolektif terhadap hari itu—meski kadang diam-diam.

Waktu ijabah—saat dikabulkannya doa—menjadi teka-teki yang tetap menegangkan. Hadis sahih riwayat An-Nasa’i menyebut: “Carilah waktu itu di akhir hari, setelah Ashar.” Para sahabat bahkan bersepakat bahwa harapan langit lebih dekat ketika senja mulai turun, saat tubuh lelah dengan dunia, dan hati kembali ke arah kiblat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya