LANGIT7.ID-Dalam kalender Islam, ada satu hari yang tak pernah kehilangan makna. Ia datang saban pekan, tapi nilainya tak pernah biasa. Hari Jumat, hari yang Rasulullah ﷺ sebut sebagai penghulu segala hari, hari ketika langit pernah dibuka untuk manusia pertama, dan hari ketika bumi kelak akan digulung untuk kiamat.
Bagi umat Islam, Jumat bukan sekadar pengganti akhir pekan dalam ritme kerja modern. Ia adalah hari raya yang datang tujuh hari sekali. Berbalut khutbah, salat berjamaah, dan waktu-waktu langit yang menyingkap rahasia ijabah.
“Sesungguhnya hari Jumat adalah hari terbaik. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, dan pada hari itu pula kiamat akan terjadi,” sabda Nabi Muhammad ﷺ, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (no. 854) dari Abu Hurairah.
Tak heran bila sebagian ulama menempatkan Jumat di atas dua hari raya besar lainnya. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam
Majmu’ Fatawa, bahkan mengutip riwayat bahwa hari Jumat lebih agung daripada Idul Fitri dan Idul Adha. Satu waktu dalam sehari, satu pintu langit dibuka. Di sana, doa seorang hamba bisa menembus langit ketujuh—selama ia tidak meminta sesuatu yang haram.
Baca juga: Kisah Humor Sufi: Ketika Nasrudin Hoja Berteriak Api! Api! di Mimbar Jumat Di antara umat Islam, narasi agung ini tak berhenti jadi retorika. Ia hidup dalam rutinitas. Dari pasar ke masjid, dari terminal ke mushola, dari penjuru kota hingga desa. Banyak yang tidak salat lima waktu, tetapi Jumat tetap dijaga. Ada semacam takzim kolektif terhadap hari itu—meski kadang diam-diam.
Waktu ijabah—saat dikabulkannya doa—menjadi teka-teki yang tetap menegangkan. Hadis sahih riwayat An-Nasa’i menyebut: “Carilah waktu itu di akhir hari, setelah Ashar.” Para sahabat bahkan bersepakat bahwa harapan langit lebih dekat ketika senja mulai turun, saat tubuh lelah dengan dunia, dan hati kembali ke arah kiblat.
Menariknya, ada riwayat dalam Shahih Muslim yang menyebut bahwa waktu ijabah berada antara duduknya imam hingga salat selesai. Namun, seperti ditulis Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam
Fathul Bari, hadis itu dinilai dhaif. Sebuah pelajaran juga, bahwa hadis dalam kitab shahih sekalipun bisa punya catatan.
Dan pada titik itu, hari Jumat mengandung paradoks spiritual: rutin tapi rahasia, biasa tapi penuh misteri.
Amalan Jumat kemudian tak lagi jadi kewajiban semata. Ia menjelma menjadi peluang. Membaca Al-Kahfi, bershalawat, saling mendoakan, bahkan sekadar diam mendengar khutbah dengan takzim—semua punya bobot yang ditulis malaikat.
Di ruang-ruang masjid, khutbah yang kadang klise tetap dinanti. Di antara peluh pasar dan deru jalanan, Jumat seperti jeda. Sejenak dari politik, dari utang, dari rating, dari hasrat. Hanya satu hari, tapi janjinya sepanjang hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan Al-Bukhari (no. 935): "Pada hari Jumat ada satu waktu, di mana seorang hamba yang sedang menjalankan salat lalu memohon sesuatu, niscaya Allah akan mengabulkannya." Dan Nabi mengisyaratkan dengan tangannya, seakan waktu itu sangatlah singkat.
Baca juga: Ketika Iduladha dan Hari Jumat Bertemu: Wajibkah Salat Jumat? Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, saat pekan diburu algoritma, hari Jumat hadir seperti pusaran yang tenang. Tak ada gempita iklan, tapi langit membuka pintunya. Tak ada musik latar, tapi malaikat mencatat.
Dan setiap pekan, kita kembali ke mimbar yang sama. Ke azan yang sama. Ke panggilan yang tak pernah menua. Jumat bukan cuma waktu. Ia adalah perjumpaan.
Bukan semua orang bisa kembali ke hari Jumat berikutnya. Tapi selama kita masih diberi waktu, semestinya kita tahu: langit sedang menunggu.
(mif)