home masjid

Di Antara Putih dan Hitam: Ketika Iman dan Nifak Tak Lagi Hitam-Putih

Sabtu, 21 Juni 2025 - 16:26 WIB
Setiap kalbu hari ini adalah perpaduan putih dan hitam. Pertanyaannya: ke mana warnanya terus bergerak? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Tak ada manusia yang sepenuhnya bersih. Juga tak ada yang sepenuhnya hitam. Demikian potongan pesan moral yang coba dirangkai Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dalam karya klasiknya, Fatawa Qardhawi. Iman, kata dia, tumbuh secara bertahap. Demikian pula kemunafikan. Semuanya berjalan perlahan, seperti kabut yang menebal atau sinar yang merembes perlahan ke dalam relung jiwa.

“Tiada orang Mukmin yang murni atau sempurna,” tulis Al-Qardhawi. “Setiap orang mempunyai kelemahan… dan sifat buruk yang sukar dihilangkan.”

Dalam dunia yang makin terpolarisasi, ketika setiap orang buru-buru mengadili: apakah seseorang Mukmin sejati atau munafik sejati, pandangan ini terasa segar dan menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan iman adalah spektrum, bukan dikotomi. Ia terdiri dari gradasi, bukan vonis.

“Pandangan orang jarang ditujukan pada hal-hal yang berada di pertengahan antara dua hal,” tulisnya. Hitam dan putih lebih mudah dipahami. Tapi siapa yang bisa membaca kelabu?

Dalam Shahih Bukhari, Al-Qardhawi mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ kepada sahabat Abu Dzar al-Ghifari, “Engkau masih memiliki sifat jahiliyah.”

Baca juga: Tali Cinta Sang Pencipta: Tafsir Al-Ghazali atas Penyakit, Ilmu, dan Iman

Abu Dzar bukan orang sembarangan. Ia termasuk sahabat awal yang memeluk Islam dan dikenal zuhud. Tapi Nabi tidak menutup mata bahwa dalam dirinya masih tersisa sisa-sisa kebiasaan lama. Bahkan para sahabat pun bukan malaikat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya