Iram: Kota Pilar yang Terkubur dan Kaum yang Membangkang
Miftah yusufpati
Senin, 23 Juni 2025 - 05:45 WIB
Hari ini, reruntuhan itu menjadi puing bisu. Tapi ia bersuara bagi siapa yang mendengar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Hadramaut, ribuan tahun lalu. Di balik gurun yang tak bertepi, tersembunyi kota yang tak kalah dari legenda. Pilar-pilarnya menjulang. Pasar rempah-rempahnya sibuk. Suaranya bergema sampai India dan Mediterania. Itulah Iram, kota megah yang disebut Al-Qur’an dalam Surat al-Fajr, dan yang oleh para mufassir diyakini sebagai pusat kemegahan Kaum ‘Ad.
Sebelum Nabi Muhammad lahir, sebelum bangsa Romawi menguasai dataran Syam, Iram sudah lebih dulu menjadi simbol peradaban gurun yang maju: kuat, kaya, sombong. Ibnu Katsir menyebut mereka sebagai kaum pertama yang kembali menyembah berhala setelah banjir besar yang menenggelamkan umat Nabi Nuh. Mereka hidup pasca tragedi itu, tapi bukan sebagai pelajaran, melainkan pengulangan kesalahan.
Mereka menyembah tiga berhala: Shuda, Shamud, dan Hiba. Dan mereka menjadikannya pusat spiritual dan simbol kekuasaan.
Kaum ‘Ad merupakan keturunan Sam bin Nuh, dan dipimpin oleh para raja yang dikenal angkuh, arogan, dan tak segan memperbudak. Di mata mereka, manusia hanya dibagi dua: yang tunduk dan yang patut disingkirkan.
Baca juga: Kisah Kaum Ad: Manusia Raksasa yang Bisa Berusia 400 Tahun, Binasa karena Diazab Allah
Allah mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam. Tapi suara Hud tenggelam dalam sorak tawa peradaban. Bangunan mereka terlalu tinggi untuk mendengar suara kenabian. Kekayaan mereka terlalu pekat untuk menerima kebenaran.
Mereka menantang Allah SWT. Mereka berkata, “Siapa yang lebih kuat dari kami?”
Sebelum Nabi Muhammad lahir, sebelum bangsa Romawi menguasai dataran Syam, Iram sudah lebih dulu menjadi simbol peradaban gurun yang maju: kuat, kaya, sombong. Ibnu Katsir menyebut mereka sebagai kaum pertama yang kembali menyembah berhala setelah banjir besar yang menenggelamkan umat Nabi Nuh. Mereka hidup pasca tragedi itu, tapi bukan sebagai pelajaran, melainkan pengulangan kesalahan.
Mereka menyembah tiga berhala: Shuda, Shamud, dan Hiba. Dan mereka menjadikannya pusat spiritual dan simbol kekuasaan.
Kaum ‘Ad merupakan keturunan Sam bin Nuh, dan dipimpin oleh para raja yang dikenal angkuh, arogan, dan tak segan memperbudak. Di mata mereka, manusia hanya dibagi dua: yang tunduk dan yang patut disingkirkan.
Baca juga: Kisah Kaum Ad: Manusia Raksasa yang Bisa Berusia 400 Tahun, Binasa karena Diazab Allah
Allah mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam. Tapi suara Hud tenggelam dalam sorak tawa peradaban. Bangunan mereka terlalu tinggi untuk mendengar suara kenabian. Kekayaan mereka terlalu pekat untuk menerima kebenaran.
Mereka menantang Allah SWT. Mereka berkata, “Siapa yang lebih kuat dari kami?”