LANGIT7.ID- Hadramaut, ribuan tahun lalu. Di balik gurun yang tak bertepi, tersembunyi kota yang tak kalah dari legenda. Pilar-pilarnya menjulang. Pasar rempah-rempahnya sibuk. Suaranya bergema sampai India dan Mediterania. Itulah Iram, kota megah yang disebut
Al-Qur’an dalam Surat al-Fajr, dan yang oleh para mufassir diyakini sebagai pusat kemegahan Kaum ‘Ad.
Sebelum Nabi Muhammad lahir, sebelum bangsa Romawi menguasai dataran Syam, Iram sudah lebih dulu menjadi simbol peradaban gurun yang maju: kuat, kaya, sombong. Ibnu Katsir menyebut mereka sebagai kaum pertama yang kembali menyembah berhala setelah banjir besar yang menenggelamkan umat Nabi Nuh. Mereka hidup pasca tragedi itu, tapi bukan sebagai pelajaran, melainkan pengulangan kesalahan.
Mereka menyembah tiga berhala: Shuda, Shamud, dan Hiba. Dan mereka menjadikannya pusat spiritual dan simbol kekuasaan.
Kaum ‘Ad merupakan keturunan Sam bin Nuh, dan dipimpin oleh para raja yang dikenal angkuh, arogan, dan tak segan memperbudak. Di mata mereka, manusia hanya dibagi dua: yang tunduk dan yang patut disingkirkan.
Baca juga: Kisah Kaum Ad: Manusia Raksasa yang Bisa Berusia 400 Tahun, Binasa karena Diazab Allah Allah mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam. Tapi suara Hud tenggelam dalam sorak tawa peradaban. Bangunan mereka terlalu tinggi untuk mendengar suara kenabian. Kekayaan mereka terlalu pekat untuk menerima kebenaran.
Mereka menantang Allah SWT. Mereka berkata, “Siapa yang lebih kuat dari kami?”
Lalu Allah menjawab. Bukan dengan petir. Tapi dengan angin panas yang terus menerus menderu selama tujuh malam delapan hari. Ia mencabik kota. Ia mengubur pilar-pilar. Iram runtuh tanpa peluru, tanpa pedang, hanya karena satu hal: kesombongan.
Ketika Al-Qur’an Bertemu ArkeologiBerabad-abad kemudian, dua peneliti dari dunia Barat mencoba mengungkap ulang sisa-sisa sejarah itu.
Nicholas Clapp, seorang arkeolog dan penulis Amerika, menulis buku
The Lost Arabian City dan
Ubar: Atlantis of the Sands. Ia percaya bahwa Iram adalah kota Ubar, sebuah legenda Arab yang hidup dalam syair Badui selama berabad-abad. Bersama NASA dan National Geographic, ia menelusuri jejak-jejak kafilah kuno melalui foto satelit dan ekspedisi gurun.
Di bawah pasir Qara, Oman, ia menemukan reruntuhan kota yang terkubur sedalam 12 meter. Dan yang paling mencengangkan: pilar-pilar batu yang menjulang. Seperti yang disebut dalam Al-Qur’an: “
Iram dzatil 'imad”*—Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi (QS Al-Fajr: 7).
Bertram Thomas, penjelajah asal Inggris, lebih dulu mengisyaratkan lokasi kota itu dalam buku *Arabia Felix*. Ia mencatat keberadaan wilayah subur di selatan Jazirah Arab, yang dipenuhi pohon
frankincense—getah wangi bernilai setara emas yang diperdagangkan hingga Mesir dan Roma. Wilayah itu makmur. Tapi juga angkuh.
"
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? Iram yang mempunyai bangunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain" (QS al-Fajr: 6–8).
Baca juga: Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi Nuh Hari ini, reruntuhan itu menjadi puing bisu. Tapi ia bersuara bagi siapa yang mendengar. Kota Iram, jika benar itu Ubar, adalah bukti sejarah bahwa Al-Qur’an tidak hanya bicara masa lalu, tapi memelihara ingatan. Kaum Ad bukan sekadar kisah moral. Mereka adalah pengingat bahwa ilmu, kekuatan, dan kekayaan tanpa takwa hanya akan menghasilkan kehancuran yang lebih besar.
Kaum Ad telah tiada. Pilar mereka terkubur. Tapi ayat tentang mereka tetap abadi.
(mif)