Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Nasib dan Asumsi
Miftah yusufpati
Selasa, 01 Juli 2025 - 16:45 WIB
Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari, seorang pemuda duduk di samping Nasrudin Hoja sambil menatap langit sore yang mulai meredup. “Mullah,” katanya, “apa artinya nasib?”
Nasrudin mengusap janggutnya perlahan, lalu menjawab, “Asumsi-asumsi.”
Pemuda itu mengerutkan kening. “Bagaimana maksudnya?”
“Begini,” ujar Nasrudin, “Engkau mengira segalanya akan berjalan dengan baik—mungkin usahamu, rencanamu, atau cintamu—tetapi kenyataannya tidak demikian. Maka engkau menyebutnya nasib buruk.”
Pemuda itu mengangguk, pelan.
“Atau,” lanjut Nasrudin, “engkau takut sesuatu akan menjadi buruk, engkau khawatir dan bersiap-siap menghadapinya, tetapi nyatanya tak terjadi. Maka engkau menyebutnya nasib baik.”
Pemuda itu tersenyum, merasa mulai memahami.
Nasrudin mengusap janggutnya perlahan, lalu menjawab, “Asumsi-asumsi.”
Pemuda itu mengerutkan kening. “Bagaimana maksudnya?”
“Begini,” ujar Nasrudin, “Engkau mengira segalanya akan berjalan dengan baik—mungkin usahamu, rencanamu, atau cintamu—tetapi kenyataannya tidak demikian. Maka engkau menyebutnya nasib buruk.”
Pemuda itu mengangguk, pelan.
“Atau,” lanjut Nasrudin, “engkau takut sesuatu akan menjadi buruk, engkau khawatir dan bersiap-siap menghadapinya, tetapi nyatanya tak terjadi. Maka engkau menyebutnya nasib baik.”
Pemuda itu tersenyum, merasa mulai memahami.