Sukuk Kurang Diminati karena Rendahnya Literasi dan Minim Inovasi
Tim langit 7
Kamis, 03 Juli 2025 - 07:18 WIB
ilustrasi
Pasar sukuk negara Indonesia tengah menghadapi tantangan pelik. Meski pemerintah terus menggembar-gemborkan penguatan ekonomi syariah sebagai pilar pembangunan berkelanjutan, sinyal kekhawatiran justru datang dari sisi investor.
Menurut pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Prof Dr Rossanto Dwi Handoyo Ph D, situasi ini menandakan adanya perubahan pola pikir investor.
“Daya tarik sukuk mulai tergerus bukan karena instrumennya buruk, tetapi karena investor semakin rasional dan memiliki banyak pilihan lain,” ujarnya.
Penurunan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama, serta fluktuasi harga komoditas seperti minyak dan emas membuat investor lebih berhati-hati. Di saat yang sama, aset seperti properti dan instrumen digital seperti kripto makin dilirik, terutama oleh generasi muda.
“Persaingan antar instrumen keuangan saat ini sangat agresif. Investor makin oportunis dan cepat berpindah,” tambah Prof Rossanto.
Baca juga:BSI Luncurkan Sukuk Sustainability Rp5 Triliun, Fokus ke UMKM dan Pembiayaan Hijau
Secara teori, tren penurunan suku bunga seharusnya menguntungkan pasar sukuk sebagai instrumen pendapatan tetap. Namun kenyataannya, preferensi pasar justru mengalir ke produk-produk yang dinilai lebih likuid dan fleksibel.
Menurut pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Prof Dr Rossanto Dwi Handoyo Ph D, situasi ini menandakan adanya perubahan pola pikir investor.
“Daya tarik sukuk mulai tergerus bukan karena instrumennya buruk, tetapi karena investor semakin rasional dan memiliki banyak pilihan lain,” ujarnya.
Penurunan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama, serta fluktuasi harga komoditas seperti minyak dan emas membuat investor lebih berhati-hati. Di saat yang sama, aset seperti properti dan instrumen digital seperti kripto makin dilirik, terutama oleh generasi muda.
“Persaingan antar instrumen keuangan saat ini sangat agresif. Investor makin oportunis dan cepat berpindah,” tambah Prof Rossanto.
Baca juga:BSI Luncurkan Sukuk Sustainability Rp5 Triliun, Fokus ke UMKM dan Pembiayaan Hijau
Secara teori, tren penurunan suku bunga seharusnya menguntungkan pasar sukuk sebagai instrumen pendapatan tetap. Namun kenyataannya, preferensi pasar justru mengalir ke produk-produk yang dinilai lebih likuid dan fleksibel.