LANGIT7.ID-, Jakarta - - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menimbulkan guncangan ekonomi global, terutama bagi negara-negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OIC) atau Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Tiga skenario masa depan perlu disiapkan.
Melalui pendekatan Innovation Megatrends Framework, DinarStandard sebuah perusahaan riset strategi pertumbuhan dan manajemen eksekusi global yang berbasis di New York City, mengembangkan sejumlah skenario yang dapat terjadi dalam beberapa tahun mendatang.
Analisis dilakukan dengan menggabungkan faktor geopolitik, kondisi ekonomi, perkembangan teknologi, serta wawancara dengan para ekonom senior dan lembaga internasional.
Dalam Seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario and Strategic Option for Regional Crisis, para ekonom dan analis membahas berbagai kemungkinan skenario serta strategi yang dapat ditempuh pemerintah dan dunia usaha untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian.
Skenario 1: Gencatan senjata-New NormalMerupakan skenario dengan tingkat gangguan paling rendah adalah "Ceasefire – New Normal", yaitu ketika pihak-pihak yang berkonflik mencapai gencatan senjata dan tercipta keseimbangan baru dalam hubungan Iran dengan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerja Sama Teluk maupun Amerika Serikat.
Dalam kondisi tersebut, hubungan ekonomi kawasan diperkirakan mengalami penataan ulang menuju sistem yang lebih multipolar. Kerja sama energi antara Iran, Rusia, dan China juga berpotensi semakin kuat.
"Skenario ini membuka peluang percepatan diversifikasi ekonomi negara-negara GCC, memperkuat koridor perdagangan intra-OKI, serta mendorong momentum dedolarisasi dalam transaksi perdagangan internasional," jelas Rafi-Uddin Shikoh, CEO dan Managing Director Dinarstandard melalui paparannya, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Krisis Timur Tengah dan Masa Depan Ekonomi Negara-Negara OKI: Dari Ketahanan Jangka Pendek Menuju Transformasi StrategisSkenario 2: Kerusuhan sipil di IranKerusuhan sipil internal di Iran menyebabkan situasi yang terpecah-pecah, mirip dengan Suriah, yang mengakibatkan destabilisasi regional yang lebih luas. Harga energi berfluktuasi.
Implikasinya yaitu untuk GCC, pemulihan sebagian tetapi ketidakstabilan yang berkepanjangan. Ekspor energi kembali perlahan selama 6-12 bulan, risiko fragmentasi OIC, serta arus pengungsi meningkat.
Skenario 3a: Perang Berkepanjangan-Perlawanan Iran MeningkatPerlawanan Iran meningkat, Israel melanjutkan operasi militer. Perang gesekan skala penuh menyebabkan keadaan darurat serupa era Covid, dalam hal rantai pasokan.
Implikasinya, dalam GCC akan terjadi kontraksi PDB 8-14%, pelarian modal massal, krisis pangan semakin dalam, OIC terpecah antara blok yang bersekutu dengan AS dan Rusia-China.
Skenario 3b: Perang Berkepanjangan-Kerusuhan sipil semakin parahKonflik militer yang berkelanjutan diperparah oleh kerusuhan sipil internal di Iran dan negara-negara tetangga. Berbagai front mendestabilisasi kawasan yang lebih luas.
Implikasinya dalam GCC, menjadi skenario terburuk dalam hal fiskal dan kemanusiaan. Serta penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, likuidasi Dana Kekayaan Negara (SWF) untuk menutupi deficit, dan krisis pengungsi regional semakin intensif.
Pertanyaannya, lanjut Rafi-Uddin Shikoh, saat ini adalah apa pilihan strategis jangka menengah dan jangka panjang bagi pembuat kebijakan pemerintah OKI dan investor korporasi untuk mencapai stabilitas ekonomi dan pertumbuhan?
"Ini waktunya mengambil strategi nyata sekarang, bukan hanya respons krisis tetapi benar-benar memungkinkan strategi baru yang kita sebut normal baru, insya Allah," tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi yang lebih stabil dinilai akan memberikan ruang bagi negara-negara OKI untuk meningkatkan kemandirian strategis dan mengurangi ketergantungan terhadap blok ekonomi tertentu.
Dia pun menilai, Indonesia memiliki posisi unik sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia dan ekonomi utama Asia Tenggara bisa benar-benar memanfaatkan tantangan dan krisis ini, serta memiliki peluang strategis dalam jangka menengah.
Diversifikasi Jadi KunciSalah satu pesan utama dari seminar adalah pentingnya diversifikasi ekonomi. Ketergantungan berlebihan pada sektor energi membuat banyak negara rentan terhadap gejolak geopolitik.
Negara-negara Teluk yang selama ini mengandalkan pendapatan minyak didorong untuk mempercepat investasi di sektor manufaktur, ekonomi digital, teknologi, logistik, hingga industri halal. Langkah ini dinilai dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas.
"Negara yang mampu memanfaatkan momentum saat ini untuk membangun rantai pasok baru dan memperluas kerja sama regional akan memperoleh keuntungan kompetitif dalam jangka panjang," ujar tim DinarStandard.
Dia juga menyoroti pentingnya peningkatan perdagangan antarnegara anggota OKI yang selama ini masih relatif rendah dibandingkan potensi yang dimiliki.
Penguatan koridor perdagangan intra-OKI dinilai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan global sekaligus membuka pasar baru bagi produk dan jasa dari negara-negara anggota. Kerja sama di sektor pangan, energi, keuangan syariah, serta industri halal menjadi area yang paling potensial untuk dikembangkan.
Selain itu, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan lintas negara mulai dipandang sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, terutama ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.
Momentum Membangun Ketahanan EkonomiSeminar Islamic Economic Outlook 2026 menegaskan bahwa krisis regional tidak selalu berujung pada kerugian ekonomi. Bagi negara-negara yang mampu membaca perubahan dan menyiapkan strategi yang tepat, disrupsi justru dapat menjadi momentum transformasi.
Meski pemerintah saat ini relatif siap menghadapi dampak jangka pendek melalui berbagai kebijakan darurat, tantangan sesungguhnya adalah membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh dalam lima tahun ke depan.
Untuk itu forum ini hadir untuk memfasilitasi diskusi ekonomis diantara para pemangku kepentingan.
![Tiga Skenario Masa Depan Menghadapi Guncangan Ekonomi Global Bagi Negara OKI]()
(Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard)
"Mengidentifikasi potensi dampak pada sektor-sektor utama, termasuk investasi perdagangan, energi, serta ekosistem ekonomi Islam dan industri halal menjadi salah satu cara," ungkap Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, ketahanan rantai pasok, diversifikasi ekonomi, serta penguatan kerja sama antarnegara OKI menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan mampu menciptakan peluang baru bagi masyarakat serta dunia usaha.
"Negara-negara OKI yang mengambil posisi strategis sejak sekarang akan mampu mengubah krisis menjadi keunggulan struktural yang bertahan lama," demikian kesimpulan yang mengemuka dalam seminar tersebut.
(lsi)