LANGIT7.ID-, Jakarta - - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga menimbulkan guncangan ekonomi global, terutama bagi negara-negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OIC) atau
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Dalam Seminar Islamic Economic Outlook 2026: Scenario and Strategic Option for Regional Crisis, para ekonom dan analis membahas berbagai kemungkinan skenario serta strategi yang dapat ditempuh pemerintah dan dunia usaha untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian.
Seminar yang diselenggarakan Bappenas RI dengan menggandeng DinarStandard tersebut menyoroti bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya bagaimana merespons krisis dalam jangka pendek, tetapi bagaimana negara-negara OKI membangun ketahanan ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.
Krisis Energi Jadi Pemicu Efek DominoDalam pemaparan seminar disebutkan bahwa penutupan
Selat Hormuz setelah eskalasi konflik regional memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Dampaknya langsung terasa pada lonjakan harga energi global.
![Krisis Timur Tengah dan Masa Depan Ekonomi Negara-Negara OKI: Dari Ketahanan Jangka Pendek Menuju Transformasi Strategis]()
(Rafi-Uddin Shikoh dari DinarStandard)
"Energi merupakan penggerak utama ekonomi. Dari sektor inilah muncul efek berantai berupa inflasi, gangguan rantai pasok, tekanan fiskal, hingga ancaman ketahanan pangan," ungkap Rafi-Uddin Shikoh, CEO dan Managing Director DinarStandard dalam presentasinya melansir dari Live Streaming Youtube Bappenas RI, Rabu (17/6/2026).
Harga minyak Brent yang sebelumnya berada di kisaran USD70 per barel melonjak hingga lebih dari USD118 per barel. Akibatnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) terkoreksi hingga sekitar 4,5 persen. Di sisi lain, negara-negara pengimpor energi di Asia Tenggara mulai mencari sumber alternatif, termasuk meningkatkan impor dari Rusia.
Baca juga: Formulasi Ekonomi Syariah sebagai Anti-Tesis Imperalisme GlobalMenurut DinarStandard, pemerintah di berbagai negara sebenarnya telah memiliki pengalaman menghadapi krisis melalui berbagai mekanisme mitigasi yang terbentuk sejak pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada strategi jangka menengah dan panjang yang masih belum banyak dibahas.
"Arus perdagangan, rantai pasok, dan kemitraan regional akan menjadi faktor fundamental yang menentukan apakah negara-negara OKI mampu mengubah disrupsi menjadi keunggulan struktural yang berkelanjutan," demikian salah satu tesis utama yang disampaikan dalam seminar.
(lsi)