Guru Ala Nabi: Tak Pernah Rendahkan, Membandingkan Dan Tidak Pernah Menyakiti. Yang Ada Cinta dan Penghargaan
Tim langit 7
Jum'at, 04 Juli 2025 - 21:04 WIB
Guru Ala Nabi: Tak Pernah Rendahkan, Membandingkan Dan Tidak Pernah Menyakiti. Yang Ada Cinta dan Penghargaan
LANGIT7.ID-Bangi; Buku “Menjadi Guru Ala Nabi: Cara Islam Mendidik dan Melahirkan Generasi Hebat” yang diterbitkan Kementerian Agama menjadi bahan kajian dalam forum Serambi Naskhah yang digelar Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.
Buku ini dibahas secara khusus dalam forum ilmiah yang diadakan secara hybrid, dengan menghadirkan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag, Thobib Al-Asyhar sebagai narasumber. Kegiatan berlangsung di Dewan Datuk Mohd Shahir, kampus ILIM, dan disiarkan kepada peserta dari berbagai wilayah secara daring.
Forum Serambi Naskhah yang selama ini dikenal sebagai ruang kajian atas karya-karya penting dunia Islam, menjadikan buku ini sebagai bahasan utama karena dinilai menyuguhkan perspektif pendidikan Islam yang kontekstual dan aplikatif. Buku ini menggali nilai-nilai kenabian dalam proses pendidikan, menjadikannya sangat relevan bagi guru, pendidik, dan pemerhati pendidikan di era modern.
Dalam paparannya secara online melalui zoom meeting, Thobib Al-Asyhar mengurai bagaimana Rasulullah Saw menempatkan cinta dan penghargaan sebagai fondasi dalam proses pendidikan.
“Rasulullah tidak pernah mempermalukan muridnya, tidak merendahkan, tidak membandingkan, apalagi menyakiti secara fisik. Pendidikan ala Nabi dimulai dari cinta, bukan amarah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kekuatan spiritual dan keteladanan menjadi metode utama Rasulullah dalam mengajarkan ilmu dan membangun karakter generasi terbaik.
Thobib juga menjelaskan bahwa dalam tradisi kenabian, setiap peserta didik dipandang sebagai potensi yang berharga, bukan beban. Rasulullah memperlakukan setiap sahabat sesuai watak dan kemampuannya, tanpa memaksakan keseragaman. Prinsip inilah yang menjadi inti dalam buku Menjadi Guru Ala Nabi, yaitu menjadikan pendekatan personal, kelembutan akhlak, dan kekuatan visi profetik sebagai ruh dalam pendidikan.
Buku ini dibahas secara khusus dalam forum ilmiah yang diadakan secara hybrid, dengan menghadirkan Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag, Thobib Al-Asyhar sebagai narasumber. Kegiatan berlangsung di Dewan Datuk Mohd Shahir, kampus ILIM, dan disiarkan kepada peserta dari berbagai wilayah secara daring.
Forum Serambi Naskhah yang selama ini dikenal sebagai ruang kajian atas karya-karya penting dunia Islam, menjadikan buku ini sebagai bahasan utama karena dinilai menyuguhkan perspektif pendidikan Islam yang kontekstual dan aplikatif. Buku ini menggali nilai-nilai kenabian dalam proses pendidikan, menjadikannya sangat relevan bagi guru, pendidik, dan pemerhati pendidikan di era modern.
Dalam paparannya secara online melalui zoom meeting, Thobib Al-Asyhar mengurai bagaimana Rasulullah Saw menempatkan cinta dan penghargaan sebagai fondasi dalam proses pendidikan.
“Rasulullah tidak pernah mempermalukan muridnya, tidak merendahkan, tidak membandingkan, apalagi menyakiti secara fisik. Pendidikan ala Nabi dimulai dari cinta, bukan amarah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kekuatan spiritual dan keteladanan menjadi metode utama Rasulullah dalam mengajarkan ilmu dan membangun karakter generasi terbaik.
Thobib juga menjelaskan bahwa dalam tradisi kenabian, setiap peserta didik dipandang sebagai potensi yang berharga, bukan beban. Rasulullah memperlakukan setiap sahabat sesuai watak dan kemampuannya, tanpa memaksakan keseragaman. Prinsip inilah yang menjadi inti dalam buku Menjadi Guru Ala Nabi, yaitu menjadikan pendekatan personal, kelembutan akhlak, dan kekuatan visi profetik sebagai ruh dalam pendidikan.