home masjid

Audit Sehari 21.600 Kali: Kala Wali Itu Roboh Setelah Menghitung Dosa

Ahad, 06 Juli 2025 - 04:15 WIB
Cerita wali yang mati setelah menghitung dosanya itu adalah cermin: mungkin tak seorang pun dari kita berani menghitung hari dan dosa kita sendiri. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu malam, wali tua itu duduk di sudut rumahnya yang sederhana. Ia menghitung pelan-pelan umur yang telah ia lalui, hari demi hari, hingga berhenti di angka 21.600. “Celaka aku,” katanya lirih, “jika setiap hari aku berdosa satu saja, bagaimana aku akan sanggup melarikan diri dari tumpukan dosa sebanyak itu?” Ia lalu tersungkur ke tanah, memekik. Dan ketika orang-orang datang menghampiri, ia sudah tiada.

Cerita itu, yang diabadikan Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan, lebih dari sekadar kisah tentang kematian seorang wali. Ia adalah sebuah sindiran telak pada watak manusia yang lalai: lupa memeriksa dirinya sendiri, lupa menghitung hutang-hutang ruhani yang mereka tanggung, lupa bahwa modal paling penting dalam hidup bukanlah angka-angka di buku tabungan, melainkan catatan amal di hati.

Dalam dunia modern yang serba cepat dan penuh gangguan ini, introspeksi, atau muhasabah, terasa semakin asing. Orang-orang dengan mudah menghitung untung-rugi di pasar saham, tapi gagal menghitung berapa banyak dusta yang mereka ucapkan hari ini. Mereka bangga menuntaskan seribu biji tasbih, tapi tidak pernah menghitung ribuan kata sia-sia yang meluncur dari bibir.

Di abad ke-11, Khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai pemimpin yang setiap malam memukul-mukul kakinya sambil bertanya, “Apa yang telah kau lakukan hari ini?” Abu Thalhah pernah kehilangan konsentrasi dalam shalat hanya karena burung indah melintas, lalu menghukum dirinya dengan menyerahkan seluruh kebun kurmanya kepada orang lain. Para wali sadar bahwa hati ini seperti rekan dagang yang licik — jika tidak diawasi, ia akan menipu dalam bentuk yang paling halus: menyamarkan cinta dunia sebagai ketaatan kepada Tuhan.

Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali

Namun, di balik itu semua, manusia seringkali malas mendisiplinkan diri. Jika tidak bisa, kata seorang wali, “maka carilah orang yang bisa menjadi teladan bagi dirimu.” Ada orang yang hanya dengan memandang Muhammad ibn Wasi, semangatnya untuk berdisiplin bisa terjaga selama seminggu. Jika teladan pun tak ditemukan, maka belajar dari kisah para wali adalah pilihan terakhir — membaca hidup mereka adalah cara memaksa diri untuk tetap waras di tengah rayuan dunia.

Al-Ghazali menuliskan sebuah teguran yang pahit: “Wahai jiwaku, kau pintar menyiapkan pakaian untuk melawan musim dingin, tapi tak pernah bersiap untuk menghadapi akhirat.” Seakan-akan, katanya, seseorang berkata di tengah badai: “Saya percaya pada rahmat Tuhan, jadi tak perlu pakai mantel.” Ia lupa bahwa rahmat itu juga hadir dalam bentuk petunjuk dan kain wol yang dianugerahkan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya