home masjid

Setiap Detik Bisa Jadi Emas atau Bara: Mengingat Pesan Para Wali untuk Memeriksa Diri Sebelum Diperiksa

Senin, 07 Juli 2025 - 04:15 WIB
Kebahagiaan itu bagi orang yang sekarang mengerjakan amal-amal yang akan memberikan keuntungan baginya setelah mati. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara deru dunia yang penuh kejaran dan ambisi, para wali, ulama, dan orang-orang saleh pernah mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, memeriksa diri. “Tuntutlah pertanggungjawaban dari dirimu sebelum dituntut pertanggungjawabanmu,” ujar Khalifah Umar bin Khattab dalam salah satu riwayatnya, yang dikutip Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan.

Pesan Umar itu seakan menjawab sebuah firman dalam Al-Qur’an: “Akan Kami pasang satu timbangan yang adil di Hari Perhitungan, dan tak akan ada jiwa yang dianiaya dalam segala hal. Siapa pun yang telah menempa satu butir kebaikan atau maksiat, kelak pada hari itu akan melihatnya.” (QS Al-Anbiya:47).

Kitab Kimia Kebahagiaan, karya monumental Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w. 1111 M), yang terbit dalam edisi Indonesia melalui Mizan (1979, terjemahan Haidar Bagir, penyunting Ahmad Muchlis), meramu nasihat-nasihat seperti itu dengan bahasa rohani yang mendalam.

Dari halaman-halamannya, kita diajak melihat bahwa kehidupan bukan sekadar lalu lintas duniawi, melainkan sebuah perjalanan rohaniah, di mana setiap tarikan napas dan detik memiliki harga yang tak ternilai.

Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali

Dalam buku itu dikisahkan tentang seorang wali yang setelah salat subuh, duduk satu jam penuh berbicara pada dirinya sendiri: “Wahai jiwaku, engkau hanya mempunyai satu hidup. Tidak satu pun saat yang telah lewat bisa dikembalikan. Karena itu, apa yang bisa kau kerjakan, kerjakanlah sekarang. Perlakukan hari ini seakan-akan hidupmu telah habis, dan hari ini adalah hari tambahan yang dianugerahkan Tuhan kepadamu.”

Cerita-cerita tentang kesadaran akan pengawasan Tuhan juga berserak dalam buku itu: seorang Habsy yang pingsan ketika menyadari bahwa Allah melihat semua dosanya, seorang murid yang enggan membunuh seekor unggas di tempat sepi karena tahu bahwa Tuhan selalu mengawasinya, Zulaikha yang malu di hadapan patung berhala, sementara Yusuf malu di hadapan Tuhan semesta alam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya