Petuah Imam Al-Ghazali tentang Pernikahan sebagai Ibadah, Rahmat, dan Jalan Selamat ke Akhirat
Miftah yusufpati
Rabu, 09 Juli 2025 - 05:15 WIB
Pernikahan adalah ladang ibadah, jalan menuju rahmat, latihan sabar, dan sumber kekuatan rohani. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ada seorang wali besar yang bermimpi tentang Hari Pengadilan. Dalam mimpinya, matahari merapat ke bumi, orang-orang tercekik haus, dan para anak kecil membawa cawan-cawan emas berisi air. Namun ketika ia meminta seteguk, anak-anak itu berkata dingin: “Tak satu pun dari kami anakmu.” Pagi harinya, wali itu bangun dengan tubuh basah keringat, dan pada hari yang sama ia memutuskan untuk menikah.
Di tengah dunia yang bising dengan debat soal cinta, kesetaraan, dan hak individu, kisah Imam Al-Ghazali ini terasa seperti petuah dari zaman lain. Tapi justru di situlah letak relevansinya: pernikahan bukan hanya soal pasangan, melainkan juga soal ibadah, rahmat, dan bahkan, sebagaimana ia tegaskan, strategi rohani untuk menyelamatkan diri di akhirat.
Bagi Al-Ghazali, pernikahan adalah salah satu amal ibadah paling mulia. Sebab, sebagaimana firman Allah bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, semakin banyak orang yang lahir untuk menyembah Tuhan berarti semakin banyak pula pengabdian di muka bumi. Para teolog lalu menyusun pepatah: lebih baik sibuk menikah daripada menekuni ibadah-ibadah sunah semata.
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali
Nabi Muhammad SAW sendiri menggambarkan dengan bahasa yang lebih menyentuh. Anak-anak, kata beliau, kelak di akhirat akan menarik kedua orang tuanya masuk surga. Bahkan yang meninggal di usia dini, sambil menangis di gerbang surga, akan memanggil-manggil ayah dan ibunya hingga keduanya diizinkan masuk untuk bergabung. Pernikahan, dalam pandangan ini, bukan hanya urusan duniawi, melainkan jembatan rahmat yang menjulur sampai ke kehidupan sesudah mati.
Tapi menikah tak hanya tentang anak-anak. Al-Ghazali menulis bahwa perempuan — istri — juga menjadi tempat suami beristirahat setelah kepenatan ibadah dan kerja. Sebagaimana Nabi ketika merasa tertekan oleh wahyu-wahyu yang turun, meminta Aisyah berbicara dengannya. “Berbicaralah padaku, wahai Aisyah,” katanya, seolah percakapan itu bisa mengembalikan kekuatan untuk menerima wahyu berikutnya.
Dalam satu hadis lain, beliau mengatakan, “Aku mencintai tiga hal di dunia ini: wewangian, perempuan, dan penyegaran kembali dengan shalat.” Bahkan ketika Umar bertanya tentang bekal terbaik di dunia, Nabi menjawab: lidah yang selalu berzikir, hati yang bersyukur, dan istri yang amanah.
Di tengah dunia yang bising dengan debat soal cinta, kesetaraan, dan hak individu, kisah Imam Al-Ghazali ini terasa seperti petuah dari zaman lain. Tapi justru di situlah letak relevansinya: pernikahan bukan hanya soal pasangan, melainkan juga soal ibadah, rahmat, dan bahkan, sebagaimana ia tegaskan, strategi rohani untuk menyelamatkan diri di akhirat.
Bagi Al-Ghazali, pernikahan adalah salah satu amal ibadah paling mulia. Sebab, sebagaimana firman Allah bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, semakin banyak orang yang lahir untuk menyembah Tuhan berarti semakin banyak pula pengabdian di muka bumi. Para teolog lalu menyusun pepatah: lebih baik sibuk menikah daripada menekuni ibadah-ibadah sunah semata.
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali
Nabi Muhammad SAW sendiri menggambarkan dengan bahasa yang lebih menyentuh. Anak-anak, kata beliau, kelak di akhirat akan menarik kedua orang tuanya masuk surga. Bahkan yang meninggal di usia dini, sambil menangis di gerbang surga, akan memanggil-manggil ayah dan ibunya hingga keduanya diizinkan masuk untuk bergabung. Pernikahan, dalam pandangan ini, bukan hanya urusan duniawi, melainkan jembatan rahmat yang menjulur sampai ke kehidupan sesudah mati.
Tapi menikah tak hanya tentang anak-anak. Al-Ghazali menulis bahwa perempuan — istri — juga menjadi tempat suami beristirahat setelah kepenatan ibadah dan kerja. Sebagaimana Nabi ketika merasa tertekan oleh wahyu-wahyu yang turun, meminta Aisyah berbicara dengannya. “Berbicaralah padaku, wahai Aisyah,” katanya, seolah percakapan itu bisa mengembalikan kekuatan untuk menerima wahyu berikutnya.
Dalam satu hadis lain, beliau mengatakan, “Aku mencintai tiga hal di dunia ini: wewangian, perempuan, dan penyegaran kembali dengan shalat.” Bahkan ketika Umar bertanya tentang bekal terbaik di dunia, Nabi menjawab: lidah yang selalu berzikir, hati yang bersyukur, dan istri yang amanah.